simpulindo.com, Gorontalo – Aliansi Pemuda Gorontalo kembali menyuarakan perlawanan terhadap aktivitas pertambangan di Kabupaten Pohuwato dengan menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor pusat PT Merdeka Copper Gold Tbk di Jakarta.
Aksi tersebut menjadi bentuk eskalasi perjuangan masyarakat Pohuwato yang kini dibawa langsung ke Ibu Kota.
Massa aksi memusatkan demonstrasi di satu titik utama dengan membawa berbagai tuntutan terkait konflik agraria, lingkungan, hingga dugaan ketidakadilan terhadap penambang rakyat di wilayah tambang.
Namun, demonstrasi yang berlangsung panas itu diwarnai kekecewaan. Tidak ada satu pun jajaran direksi maupun pimpinan perusahaan yang menemui massa aksi. Informasi yang diterima demonstran menyebutkan bahwa pimpinan perusahaan sedang menjalankan ibadah umroh di Mekah.
Situasi itu memicu kecaman keras dari Syahril, salah satu tokoh utama gerakan. Ia menilai absennya pimpinan perusahaan merupakan bukti bahwa pihak korporasi tidak serius menangani persoalan yang terus memicu gejolak di Pohuwato.
“Ini adalah bukti bahwa pihak Merdeka Copper Gold abai dan tidak serius menyelesaikan konflik yang terjadi di Kabupaten Pohuwato,” tegas Syahril dalam orasinya.
Ia memastikan perjuangan mereka tidak akan berhenti hanya pada aksi tersebut. Menurutnya, Aliansi Pemuda Gorontalo akan kembali menggelar aksi lanjutan dalam waktu dekat.
“Kami akan kembali dengan Jilid II minggu depan dan aksi-aksi berikutnya sampai suara masyarakat benar-benar didengar pemerintah pusat,” ujarnya.
Dalam aksi tersebut, massa juga menyampaikan empat tuntutan utama kepada pemerintah pusat dan pihak perusahaan.
Pertama, massa meminta Presiden Prabowo Subianto menghentikan sementara aktivitas pertambangan Merdeka Copper Gold atau Pani Gold Mine di Kabupaten Pohuwato.
Mereka menilai proses pelimpahan IUP OP 100 hektare milik KUD Darma Tani kepada perusahaan cacat hukum dan tidak prosedural.
Selain itu, massa menyoroti persoalan ganti rugi lahan penambang rakyat yang dinilai tidak adil sehingga memicu konflik berkepanjangan antara masyarakat dan perusahaan.
Kedua, massa meminta Menteri ESDM dan Kementerian Lingkungan Hidup segera mengambil tindakan tegas terhadap perusahaan.
Mereka menuding aktivitas pertambangan telah merampas ruang hidup penambang tradisional, merusak fasilitas tambang rakyat seperti talang, panjura, hingga camp milik warga.
Aliansi Pemuda Gorontalo juga menuding aktivitas perusahaan menjadi penyebab banjir lumpur yang merusak rumah warga dalam beberapa bulan terakhir.
Ketiga, massa meminta Kapolri mengevaluasi Kapolda Gorontalo yang dinilai menyampaikan informasi tidak sesuai fakta terkait dugaan kerusakan lingkungan oleh perusahaan tambang.
Massa menilai terdapat perbedaan antara pernyataan aparat dengan data lingkungan hidup yang menunjukkan adanya dampak sedimentasi dan banjir akibat aktivitas pertambangan.
Selain itu, mereka juga menyoroti pemanggilan sejumlah aktivis lingkungan, termasuk Ketua Pemuda Muhammadiyah Pohuwato dan beberapa pihak lainnya, yang diperiksa terkait aksi demonstrasi di area perusahaan.
Keempat, massa mendesak pihak PT Merdeka Copper Gold Tbk bertanggung jawab penuh atas konflik sosial dan dugaan kerusakan lingkungan yang terus terjadi di Pohuwato tanpa penyelesaian yang jelas.
Aksi unjuk rasa berakhir menjelang petang dengan pengawalan aparat keamanan. Massa membubarkan diri secara tertib sambil menegaskan komitmen untuk terus membawa perjuangan masyarakat Pohuwato ke tingkat nasional. (Ap/Simpulindo)












