Parlemen

Bukan 26 April, Hendra Nurdin Dorong Revisi Hari Lahir Gorut

×

Bukan 26 April, Hendra Nurdin Dorong Revisi Hari Lahir Gorut

Sebarkan artikel ini
Hendra Nurdin, Anggota DPRD Gorontalo Utara Dari Partai Nasdem, Foto: Rocki

simpulindo.com, Gorut – Anggota Fraksi NasDem DPRD Kabupaten Gorontalo Utara, Hendra Nurdin, mendorong agar pelaksanaan peringatan hari lahir daerah ke depan disesuaikan dengan fakta sejarah yang sebenarnya.

Pernyataan tersebut disampaikan Hendra usai mengikuti Rapat Paripurna Istimewa dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-19 Kabupaten Gorontalo Utara, Minggu (26/4/26).

Kepada awak media, Hendra menegaskan bahwa secara historis, Gorontalo Utara lahir pada 8 Desember 2006.

Menurutnya, tanggal tersebut merupakan momen yang seharusnya dijadikan acuan utama dalam memperingati hari jadi daerah.

Ia menjelaskan bahwa tanggal 26 April yang selama ini diperingati, pada dasarnya merupakan momentum pelantikan Penjabat Bupati sekaligus peresmian daerah, bukan hari kelahiran secara substansi.

“Secara fakta sejarah, Gorut itu lahir pada 8 Desember 2006. Sementara 26 April ini adalah pelantikan pejabat bupati dan peresmian,” jelas Hendra.

Untuk mempermudah pemahaman, ia mengibaratkan peristiwa tersebut seperti kelahiran seorang bayi.

Menurutnya, yang seharusnya diperingati adalah hari kelahiran sang bayi, bukan saat akta kelahirannya diterbitkan.

“Analoginya seperti bayi lahir hari ini, lalu akta kelahirannya keluar besok. Yang diperingati tentu hari lahirnya, bukan keluarnya akta,” ujarnya.

Hendra juga menegaskan bahwa dirinya merupakan bagian dari pelaku sejarah dalam proses pembentukan Kabupaten Gorontalo Utara, sehingga memiliki tanggung jawab moral untuk meluruskan pemahaman tersebut.

Ia berharap ke depan pemerintah daerah bersama DPRD dapat mengkaji kembali penetapan hari jadi Gorontalo Utara agar lebih selaras dengan fakta sejarah dan memiliki legitimasi yang kuat.

Dorongan ini sekaligus menjadi bahan refleksi dalam momentum peringatan HUT ke-19 Gorontalo Utara, agar identitas sejarah daerah tetap terjaga dan tidak mengalami distorsi. (Ap/Simpulindo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *