Simpulindo.com, Gorontalo – Paris Saint-Germain kembali menegaskan dominasinya di Eropa. Klub asal Prancis itu sukses mempertahankan gelar Liga Champions setelah menaklukkan Arsenal melalui adu penalti pada partai final musim 2025/2026.
Kemenangan itu menjadi trofi Liga Champions kedua secara beruntun bagi PSG. Lebih dari sekadar mempertahankan gelar, capaian itu memperlihatkan bagaimana klub berjuluk Les Parisiens mampu berkembang menjadi tim yang lebih solid setelah berakhirnya era Kylian Mbappe.
Ketika penyerang tim nasional Prancis itu meninggalkan Paris pada 2024, banyak pihak memprediksi kekuatan PSG akan mengalami penurunan. Kenyataannya justru berbeda. Di bawah arahan pelatih Luis Enrique, PSG bertransformasi menjadi kesebelasan yang mengandalkan keseimbangan kolektif dibanding ketergantungan pada satu bintang.
Musim lalu, PSG akhirnya mengakhiri penantian panjang dengan meraih gelar Liga Champions pertama dalam sejarah klub. Prestasi itu menjadi jawaban atas proyek besar yang dibangun sejak kepemimpinan Nasser Al-Khelaifi.
Keberhasilan mempertahankan gelar musim ini semakin memperkuat posisi PSG sebagai kekuatan baru di sepak bola Eropa.
Laga final berlangsung ketat. Arsenal sempat membuka keunggulan dan membuat PSG berada dalam tekanan. Meski begitu, wakil Prancis mampu bangkit dan memaksakan pertandingan berlanjut hingga adu penalti.
Dalam babak penentuan, Nuno Mendes gagal menjalankan tugas sebagai algojo. Akan tetapi, Arsenal kehilangan lebih banyak peluang setelah Eberechi Eze dan Gabriel Magalhaes gagal menuntaskan tendangan mereka. PSG akhirnya memastikan kemenangan dengan skor 4-3 dalam adu penalti.
Perjalanan menuju partai puncak sebenarnya tidak selalu berjalan mulus. Pada fase liga, PSG gagal menembus delapan besar sehingga harus melalui jalur playoff untuk mengamankan tiket ke babak 16 besar.
Setelah melewati fase awal yang berat, performa PSG terus meningkat pada fase gugur. Mereka terlebih dahulu mengatasi perlawanan AS Monaco dengan agregat 5-4.
Kepercayaan diri skuad asuhan Luis Enrique kemudian tumbuh dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya. Chelsea disingkirkan dengan agregat meyakinkan 8-2. Liverpool gagal membendung laju PSG setelah kalah agregat 4-0. Bayern Muenchen pun tersingkir dalam duel sengit yang berakhir dengan agregat 6-5.
Rangkaian hasil itu memperlihatkan kematangan PSG sebagai tim. Jika pada masa lalu klub kerap dipandang sebagai kumpulan pemain bintang, kini PSG tampil sebagai kesebelasan yang memiliki kedalaman skuad, disiplin taktik, dan mental juara.
Dua gelar Liga Champions secara beruntun menjadi penanda bahwa kejayaan PSG tidak berhenti setelah kepergian Mbappe. Sebaliknya, klub asal Paris itu justru menemukan bentuk terbaiknya dan berhasil mencapai puncak yang selama bertahun-tahun hanya menjadi impian. (An/Simpulindo).
Kami berkomitmen menyajikan informasi faktual dari lapangan. Ikuti perkembangan terbaru melalui saluran kami Klik Disini https://bit.ly/4n8h1GD












