Simpulindo.com, Gorontalo – Sejumlah siswa terlihat menumpang becak motor (bentor) melebihi kapasitas kendaraan di sejumlah ruas jalan Kota Gorontalo. Kondisi ini menjadi perhatian Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polresta Gorontalo Kota karena berisiko mengganggu kestabilan kendaraan.
Temuan itu didapati petugas saat melakukan penertiban lalu lintas dalam sepekan terakhir. Dalam beberapa kasus, siswa tidak hanya memenuhi tempat duduk penumpang, tetapi juga duduk di bagian tempat kaki hingga bagian belakang bentor.
Kondisi serupa disebut kerap terlihat di jalanan Kota Gorontalo, terutama saat siswa berangkat maupun pulang sekolah. Dalam satu kendaraan, penumpang bahkan dapat mencapai beberapa orang sekaligus.
Petugas kemudian meminta sebagian penumpang turun dan menggunakan sarana transportasi lain. Pengemudi bentor juga diberikan edukasi agar menyesuaikan jumlah penumpang dengan kapasitas kendaraan.
Kasat Lantas Polresta Gorontalo Kota AKP Nurmaya Kasim mengatakan, langkah itu merupakan upaya preventif untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai keselamatan berlalu lintas.
“Keselamatan berlalu lintas adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. Kami tidak melarang mencari rezeki, tetapi aturan keselamatan harus diutamakan,” kata Nurmaya, Senin (12/9/2026).
Menurut Nurmaya, bentor memiliki kapasitas yang dirancang sesuai konstruksi kendaraan. Penggunaan di luar kapasitas dapat memengaruhi keseimbangan, terutama ketika pengemudi melakukan pengereman mendadak atau melewati tikungan.
“Bentor itu didesain untuk kapasitas tertentu, bukan untuk mengangkut penumpang berdesak-desakan hingga membahayakan kestabilan kendaraan,” ujarnya.
Penertiban tidak hanya menyasar bentor. Polisi juga menemukan pengendara sepeda motor yang menggunakan kendaraan tanpa kaca spion saat melakukan pengamanan di jalur sekitar Mapolresta Gorontalo Kota.

Sejumlah pengendara diketahui melepas kaca spion sepeda motornya. Petugas meminta perlengkapan itu dipasang kembali dan memberikan penjelasan mengenai fungsi kaca spion dalam membantu pengendara memantau kondisi di belakang kendaraan.
Nurmaya mengatakan pendekatan humanis masih menjadi langkah awal dalam menangani pelanggaran yang ditemukan di lapangan. Teguran dan edukasi diberikan agar masyarakat memahami pentingnya mematuhi ketentuan keselamatan.
“Kami sudah memberikan teguran humanis dan edukasi kepada para pengemudi yang melanggar. Jika ke depan masih ditemukan pelanggaran serupa yang berulang dan berpotensi menimbulkan kecelakaan, tentu kami akan mengambil tindakan sanksi tilang,” tegasnya.
Polisi mengingatkan pengemudi bentor agar tidak memaksakan jumlah penumpang hanya untuk mengangkut lebih banyak orang dalam satu perjalanan. Keselamatan pengemudi dan penumpang dinilai harus menjadi pertimbangan utama.
Terlebih, penumpang bentor yang berasal dari kalangan pelajar berada pada posisi yang rentan ketika kendaraan membawa muatan berlebihan. (An/Simpulindo).












