Berita

Lima Pena Satu Perjuangan: Jalan MEDIHAM Gorontalo Menuju Akreditasi

×

Lima Pena Satu Perjuangan: Jalan MEDIHAM Gorontalo Menuju Akreditasi

Sebarkan artikel ini
Herno Dalali, S.H., M.H. | Roy Ponbole, S.H. | Aleks Abas, S.H., M.H., CMLE. | Virgini Cristina, SH., CPM. | Djafar Madjid, SH
Herno Dalali, S.H., M.H. | Roy Ponbole, S.H. | Aleks Abas, S.H., M.H., CMLE. | Virgini Cristina, SH., CPM. | Djafar Madjid, SH

Simpulindo.com, Gorontalo – Sebuah organisasi tidak hanya dibangun oleh struktur dan kepengurusan. Di dalamnya ada gagasan, perbedaan, perdebatan, serta orang-orang yang memilih bertahan ketika perjalanan tidak selalu berjalan mudah.

Kisah itulah yang mewarnai perjalanan Lembaga Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia (MEDIHAM) Gorontalo dalam upaya menuju akreditasi sebagai organisasi bantuan hukum.

Perjalanan itu dijalani bersama oleh Herno Dalali, S.H., M.H., Roy Ponbole, S.H., Aleks Abas, S.H., M.H., CMLE., Virginia Cristina, S.H., CPM., dan Djafar Madjid, S.H., bersama seluruh anggota MEDIHAM.

Bagi mereka, pengajuan akreditasi bukan sekadar memenuhi sejumlah persyaratan administratif. Proses itu menjadi bagian dari upaya membangun kelembagaan agar MEDIHAM dapat menjalankan pengabdian di bidang bantuan hukum secara lebih terarah, profesional, dan berkelanjutan.

MEDIHAM sendiri lahir dari gagasan bahwa akses terhadap keadilan tidak semestinya hanya dapat dinikmati oleh mereka yang memiliki kemampuan ekonomi.

Masyarakat yang tidak mampu secara finansial tetap memiliki hak untuk memperoleh bantuan dan pembelaan hukum. Gagasan itulah yang menjadi salah satu pijakan perjalanan organisasi tersebut.

Baca juga:  Sebanyak 954 Warga Bone Pantai Krisis Air Bersih

Jalan menuju akreditasi kemudian mempertemukan berbagai dinamika internal organisasi. Seperti organisasi pada umumnya, perbedaan pandangan di antara pengurus dan anggota tidak selalu dapat dihindari.

Miskomunikasi pernah terjadi. Perbedaan cara pandang juga menjadi bagian dari perjalanan.

Direktur, wakil direktur, pengurus, dan anggota memiliki pemikiran serta cara kerja masing-masing. Pada titik tertentu, perbedaan itu menjadi ujian bagi kebersamaan organisasi.

Namun, perjalanan MEDIHAM menunjukkan bahwa perbedaan tidak harus berakhir pada perpecahan.

Ketika kembali mengingat tujuan awal organisasi, yakni memberikan manfaat dan membuka akses bantuan hukum bagi masyarakat yang membutuhkan, para pengurus dan anggota kembali membangun komunikasi.

Mereka kembali duduk bersama, berbicara, dan menyatukan langkah.

Sebab persoalan yang dihadapi masyarakat di luar organisasi jauh lebih besar. Masih terdapat warga yang tidak memahami persoalan hukum, tidak memiliki kemampuan ekonomi untuk memperoleh jasa hukum, dan tidak mengetahui harus mencari bantuan kepada siapa ketika berhadapan dengan persoalan hukum.

Dalam keadaan seperti itu, keberadaan organisasi bantuan hukum menjadi penting.

Baca juga:  BEM Gorontalo Kecam Shopee Express, Soroti Pengingkaran Komitmen dan Pengabaian Usaha Lokal

Bagi MEDIHAM, akreditasi karena itu dipandang bukan sebagai tujuan akhir. Ia menjadi salah satu tahapan untuk memperkuat organisasi agar pengabdian kepada masyarakat dapat dilakukan secara lebih baik.

Prosesnya pun tidak sederhana.

Dokumen organisasi harus dipersiapkan. Persyaratan harus dipenuhi. Sejarah dan administrasi kelembagaan perlu ditata. Kekurangan harus diperbaiki. Komunikasi internal harus dibangun kembali.

Semua itu membutuhkan waktu, tenaga, dan kesediaan untuk bekerja bersama.

Di situlah perjalanan menuju akreditasi menemukan maknanya. Bukan semata tentang dokumen yang lengkap, melainkan tentang kemampuan sebuah organisasi mempertahankan tujuan ketika berhadapan dengan persoalan di dalam tubuhnya sendiri.

Ada anggota yang menyumbangkan waktu. Ada yang memberikan tenaga dan pikiran. Ada pengurus yang berusaha memperbaiki kelembagaan. Ada pula mereka yang memilih bertahan ketika keadaan tidak mudah.

Lima nama yang berada di garis perjuangan pengajuan akreditasi itu pun menyadari bahwa perjalanan MEDIHAM bukanlah perjuangan milik segelintir orang.

Herno Dalali, Roy Ponbole, Aleks Abas, Virginia Cristina, dan Djafar Madjid hanyalah bagian dari perjalanan panjang sebuah organisasi yang dibangun oleh banyak orang.

Baca juga:  Perebutan Kursi Ketum KADIN Gorontalo: Pertarungan Pengusaha atau Bayang-Bayang Politik?

Jika kelak MEDIHAM tercatat sebagai organisasi bantuan hukum terakreditasi, pencapaian itu tidak semata-mata menjadi milik para pengurus yang mengurus proses tersebut.

Keberhasilan itu merupakan buah dari kerja seluruh anggota yang sejak awal telah memberikan waktu, tenaga, pikiran, dan pengabdiannya.

Sebab akreditasi bukan garis akhir.

Setelah pintu itu terbuka, perjalanan yang sesungguhnya justru semakin panjang: memberikan bantuan hukum, menjaga kepercayaan masyarakat, dan memastikan ilmu hukum dapat digunakan untuk membantu mereka yang membutuhkan.

Pada akhirnya, MEDIHAM bukan hanya tentang nama sebuah organisasi.

Di balik nama itu ada orang-orang yang pernah berbeda, tetapi memilih kembali bersatu. Ada mereka yang bertahan ketika keadaan tidak mudah. Ada tangan-tangan yang bekerja tanpa selalu terlihat.

Lima pena boleh menuliskan kisahnya.

Tetapi perjuangan itu tetap milik seluruh keluarga besar MEDIHAM Gorontalo.

Satu nama, banyak tangan.

Satu tujuan, membuka jalan bagi masyarakat menuju keadilan.


**Cek berita dan artikel terbaru di Saluran WhatsApp simpulindo.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *