Penulis: Muh. Algufran Yajitala (Wapres BEM UNG)
Simpulindo.com, Boalemo – Ada dua jenis perayaan hari jadi daerah di negeri ini. Pertama, yang penuh refleksi dan perenungan. Kedua, yang penuh kue tart, baliho ucapan selamat, dan hiburan artis ibukota. Tebak Kabupaten Boalemo masuk yang mana?
Sudah menjadi budaya politik lokal: setiap kali hari jadi kabupaten tiba, euforia lebih dulu tumbuh subur daripada perenungan keberhasilan pembangunan. Ritual tahunan berupa upacara, konser hiburan, hingga pawai pembangunan seakan menjadi penebus dosa kolektif atas buruknya tata kelola pemerintahan.
Jika tolak ukur keberhasilan sebuah daerah adalah siapa yang paling banyak membuat perayaan yang bersifat euforia tahunan oleh para pejabat, maka selamat—Boalemo telah menjadi kabupaten paling sukses di Gorontalo. Namun sayang, statistik kesejahteraan tidak pernah bisa ditutupi dengan panggung perasaan yang berlebihan semacamnya.
Mereka luput dari pertanyaan mendasar ketika hari jadi tiba: Apakah Boalemo benar-benar lebih sejahtera setelah 26 tahun pemekaran, atau hanya lebih ramai dalam perayaan?
Berdasarkan Data BPS Kabupaten Boalemo (2024), jumlah penduduk yang berada dibawah garis kemiskinan tercatat sebesar 31,94, tertinggi kedua di provinsi ini setelah Gorontalo. Angka ini jauh di atas rata-rata nasional yang berada pada level 9,36 persen. Artinya, dua kali lipat lebih banyak warga Boalemo yang hidup di bawah garis kemiskinan dibanding rata-rata penduduk Indonesia. Bahkan dalam lima tahun terakhir, penurunan angka kemiskinan di Boalemo bergerak lambat dan tidak signifikan, hanya berkurang sekitar 1,2 persen sejak 2018, menunjukkan stagnasi kebijakan pengentasan kemiskinan. Banyak faktor yang mempengaruhi uraian kemiskinan diatas. Salah satunya adalah ekonomi.
Dalam presentasi data, laju pertumbuhan ekonomi Boalemo berada pada kisaran 4,42 persen (2023)—sedikit lebih rendah dari rata-rata Provinsi Gorontalo (4,50 persen) dan tertinggal dari kabupaten lain seperti Bone Bolango (4,47 persen). Ketergantungan ekstrem pada sektor primer seperti pertanian (menyumbang 43 persen PDRB) dan perikanan (11 persen PDRB) tanpa industrialisasi hilir menyebabkan ekonomi Boalemo rentan terhadap shock iklim dan harga komoditas. Tanpa diversifikasi dan nilai tambah industri, Boalemo akan terus menjadi produsen bahan mentah, bukan pemain utama ekonomi regional.
Lebih mengkhawatirkan lagi, kualitas sumber daya manusia di Boalemo masih tertinggal. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Boalemo tahun 2023 berada di angka 68,78, menjadikannya yang terendah kedua di Provinsi Gorontalo dan masuk kategori “sedang”, bukan “tinggi” sebagaimana ambang batas 70. Sebagai pembanding, Kabupaten Bone Bolango telah mencapai IPM 71,97, bahkan Kota Gorontalo telah menyentuh 78,64. Artinya, setelah seperempat abad berdiri, Boalemo belum berhasil melampaui kategori dasar dalam kualitas hidup warga.
Komponen IPM lainnya menunjukkan tantangan struktural. Rata-rata Lama Sekolah (RLS) Boalemo hanya 7,30 tahun, artinya sebagian besar penduduk tidak menyelesaikan pendidikan tingkat SMP. Angka Harapan Lama Sekolah (HLS) memang mencapai 12,28 tahun, namun belum sepenuhnya terealisasi karena akses pendidikan menengah atas masih timpang antar wilayah. Dari aspek kesehatan, Angka Harapan Hidup (AHH) hanya 71,34 tahun, tertinggal dari rata-rata nasional yang telah mencapai 73 tahun. Ini membuktikan bahwa intervensi pada pendidikan dan kesehatan belum cukup progresif dan maksimal.
Di bidang tata kelola pemerintahan, problem integritas masih menjadi pekerjaan rumah serius. Data KPK (2021) menyebutkan bahwa Gorontalo masuk 10 besar provinsi dengan kerawanan korupsi pada sektor pengadaan barang dan jasa. Dalam kurun 10 tahun terakhir, sejumlah pejabat Boalemo pernah tersandung kasus penyalahgunaan anggaran belanja dan jasa maupun proyek infrastruktur lainnya. Ketika anggaran bocor sebelum sampai ke tangan masyarakat, maka pembangunan hanya menjadi jargon.
Namun kritik tanpa harapan hanyalah sinisme. Boalemo memiliki modal sosial yang kuat: 72,30 persen penduduknya berada pada usia produktif (BPS 2024). Bonus demografi ini dapat menjadi mesin pembangunan jika difasilitasi dengan link and match keterampilan, teknologi, dan industri. Potensi pertanian organik, perikanan tangkap modern, serta pariwisata bahari di Boalemo dapat menjadi lokomotif ekonomi baru, asalkan pemerintah tidak hanya puas menjadi event organizer, melainkan policy maker yang visioner.
Memasuki usia 26 tahun, Boalemo tidak lagi membutuhkan pesta perayaan, melainkan audit nurani kolektif. Kemiskinan tidak bisa dikamuflasi dengan lomba nyanyian dan rendahnya IPM tidak bisa ditutup oleh pesta kembang api. Mungkin sudah saatnya Kabupaten Boalemo berhenti bertanya “Siapa yang akan diundang pada perayaan ulang tahun nanti?” dan mulai bertanya “Apa indikator pembangunan yang akan kita capai pada usia ke-30?”
Dengan usia yang sudah melampaui seperempat abad ini, mari kita senantiasa merenungi—sebenarnya, apa tujuan daerah ini dimekarkan? bagi siapa daerah ini ada? apakah kita sejauh ini hanya akan terus menerima kondisi daerah yang tidak mau berbenah?
Sebab kedewasaan sebuah daerah bukan ditentukan oleh panjangnya rentang usia, tetapi seberapa jujur ia mengakui kesalahannya—dan berani memperbaiki hidupnya.
Selamat hari jadi, Boalemo!












