Internasional

Satu Abad Hidup Siti Hasmah, 70 Tahun di Sisi Mahathir

×

Satu Abad Hidup Siti Hasmah, 70 Tahun di Sisi Mahathir

Sebarkan artikel ini
(Gambar ilustrasi AI)
(Gambar ilustrasi AI)

Simpulindo.com, Kuala Lumpur – Selama 70 tahun, Tun Dr Siti Hasmah Mohamad Ali berjalan di sisi Tun Dr Mahathir Mohamad.

Mereka bertemu ketika masih sama-sama menempuh pendidikan kedokteran di Singapura. Dari sana, sebuah perjalanan panjang dimulai. Pernikahan pada 4 Agustus 1956 mempertemukan keduanya dalam kehidupan yang kemudian melewati banyak perubahan dari kehidupan sebagai dokter, keluarga dengan tujuh anak, hingga menjadi bagian dari sejarah politik Malaysia.

Pada Agustus 2026, keduanya masih sempat memperingati 70 tahun pernikahan. Tidak lama setelah momen itu, kabar duka datang.

Siti Hasmah meninggal dunia pada Senin (28/9/2026) dalam usia 100 tahun. Ia mengembuskan napas terakhir di Institut Jantung Negara (IJN), Kuala Lumpur, sekitar pukul 09.20 waktu setempat.

Bagi Mahathir, kepergian itu berarti kehilangan pasangan hidup yang telah menemaninya melewati tujuh dekade. Bagi Malaysia, kepergian Siti Hasmah meninggalkan cerita tentang seorang perempuan yang menjalani hidupnya jauh lebih panjang daripada sekadar predikat sebagai istri mantan perdana menteri.

Perempuan yang memilih menjadi dokter

Jauh sebelum mendampingi Mahathir dalam perjalanan politiknya, Siti Hasmah sudah lebih dulu membangun jalan hidup melalui dunia kedokteran.

Lahir di Kampung Jawa, Klang, Selangor, pada 12 Juli 1926, Siti Hasmah merupakan anak keenam dari sepuluh bersaudara.

Pendidikan membawanya ke King Edward VII College of Medicine di Singapura. Beasiswa pemerintah membuka kesempatan untuk mempelajari ilmu kedokteran hingga akhirnya meraih gelar dokter pada 1955.

Karier profesional dimulai di Rumah Sakit Umum Kuala Lumpur.

Setelah menikah, Siti Hasmah pindah ke Alor Setar dan melanjutkan pekerjaan sebagai medical officer di Rumah Sakit Umum Alor Setar. Perhatian besarnya tertuju pada kesehatan ibu dan anak.

Baca juga:  Aktivis Desak IMO untuk Tidak Memasukkan Biofuel ke dalam Kerangka Net-Zero

Pada 1965, sejarah mencatat namanya sebagai perempuan pertama yang ditunjuk menjadi Medical Officer di Departemen Kesehatan Ibu dan Anak Kedah.

Sembilan tahun kemudian, posisi penting kembali dipercayakan kepadanya. Siti Hasmah menjadi perempuan pertama yang menjabat State Maternal and Child Health Officer di Kedah.

Kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana serta berbagai persoalan sosial yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan menjadi perhatian dalam kiprahnya.

Ketika rumah menjadi tempat pulang

Di tengah perjalanan karier Mahathir yang semakin besar, rumah tetap menjadi ruang bagi keluarga.

Mahathir menjabat Perdana Menteri Malaysia dalam dua periode, 1981–2003 dan 2018–2020. Selama puluhan tahun berada di lingkungan politik, Siti Hasmah mendampinginya melewati berbagai perubahan.

Namun, dirinya tidak sekadar mengambil posisi sebagai pendamping kepala pemerintahan.

Kegiatan sosial dan kesehatan terus dijalani. Perhatian diarahkan kepada perempuan, anak-anak, keluarga berencana, penyandang disabilitas hingga pencegahan penyalahgunaan narkoba.

Sejumlah organisasi pernah dipimpinnya, termasuk Malaysian Girl Guides Association dan Kedah Family Planning Association.

Ruang sosial menjadi tempat lain untuk meneruskan kepedulian yang sebelumnya tumbuh melalui profesi dokter.

 

Air mata di podium Piala Thomas

Ada satu kenangan yang memperlihatkan kedekatan Siti Hasmah dengan masyarakat Malaysia tanpa embel-embel kekuasaan.

Kenangan itu datang dari lapangan bulu tangkis.

Pada 1992, Malaysia berhasil merebut Piala Thomas setelah menunggu selama 25 tahun. Sebagai pelindung Asosiasi Bulu Tangkis Malaysia saat itu, Siti Hasmah ikut berada dalam suasana kemenangan.

Baca juga:  Jet Tempur Tejas Jatuh saat Aksi di Dubai Air Show, Pilot Tewas

Air mata mengalir ketika trofi kembali ke Malaysia.

Bagi dirinya, para pemain bukan sekadar atlet. Hubungan yang terbangun membuat mereka terasa seperti anak-anak sendiri.

Momen tersebut menjadi salah satu gambaran tentang karakter Siti Hasmah yang lebih mudah dikenang melalui kedekatan dan perhatian daripada jabatan yang pernah melekat padanya.

Dari kesehatan masyarakat hingga panggung dunia

Perhatian terhadap persoalan sosial membawa Siti Hasmah melampaui batas Malaysia.

Pada 1985, Washington menjadi tempat berlangsungnya First Ladies’ Conference on Drug Abuse yang dihadirinya atas undangan Nancy Reagan.

Dua tahun berselang, Siti Hasmah mewakili Malaysia dalam International Conference on Drug Abuse and Illicit Trafficking di Wina.

Kegiatan tersebut memperlihatkan luasnya perhatian yang diberikan terhadap persoalan kesehatan dan sosial. Dari kesehatan ibu dan anak hingga penyalahgunaan narkoba, isu yang disentuh berkaitan langsung dengan kelompok masyarakat yang rentan.

Tujuh anak dan tujuh dekade bersama

Di balik berbagai aktivitas publik, keluarga tetap menjadi bagian penting dalam hidup Siti Hasmah.

Pernikahan dengan Mahathir dikaruniai tujuh anak.

Selama tujuh dekade, pasangan ini melewati masa muda, membesarkan keluarga, menghadapi kesibukan pekerjaan, serta menyaksikan Mahathir dua kali memimpin Malaysia.

Waktu akhirnya membawa keduanya ke usia senja.

Pada 12 Juli 2026, Siti Hasmah genap berusia 100 tahun.

Sebulan kemudian, keduanya memperingati 70 tahun pernikahan.

Momen itu menjadi salah satu kenangan terakhir pasangan tersebut sebelum perpisahan datang.

Hari terakhir di IJN

Pagi 28 September 2026 menjadi hari terakhir Siti Hasmah.

Baca juga:  Ekspansi Asia Tenggara, Dewi Sartika Pasande Gandeng MP Holdings Kelola Hotel Bintang Lima di Vietnam

Setelah dirawat di IJN, Kuala Lumpur, perempuan kelahiran Klang itu meninggal dunia pada usia satu abad.

Jenazah dibawa menuju kediaman keluarga di The Mines, Seri Kembangan, Selangor.

Prosesi salat jenazah berlangsung di Masjid As Syarif, Selangor. Sejumlah tokoh hadir memberikan penghormatan terakhir.

Perdana Menteri Anwar Ibrahim bersama istrinya, Wan Azizah Wan Ismail, turut hadir. Mantan Perdana Menteri Muhyiddin Yassin, Wakil Perdana Menteri Ahmad Zahid Hamidi, sejumlah menteri kabinet, tokoh masyarakat dan perwakilan diplomatik juga menyampaikan belasungkawa.

Pemerintah Malaysia memberikan penghormatan kenegaraan atas jasa dan kontribusi almarhumah.

Setelah seratus tahun, sebuah kehidupan akhirnya sampai pada penghujungnya.

Yang tertinggal bagi keluarga adalah kenangan tentang seorang istri, ibu dan nenek.

Bagi masyarakat Malaysia, nama Siti Hasmah akan selalu melekat pada sosok dokter perempuan yang ikut membuka jalan bagi generasi setelahnya, terutama dalam bidang kesehatan ibu dan anak.

Bagi Mahathir, tentu ceritanya jauh lebih personal.

Ada seorang perempuan yang ditemuinya ketika masih muda. Ada pasangan yang kemudian berjalan bersamanya selama 70 tahun. Ada ibu dari tujuh anak yang menjadi bagian dari hampir setiap bab penting dalam hidupnya.

Tujuh puluh tahun bersama Mahathir hanyalah satu bagian dari kisah panjang Siti Hasmah.

Selebihnya adalah cerita tentang bagaimana seorang perempuan mengisi satu abad hidupnya dengan ilmu, keluarga, kepedulian dan waktu yang diberikan kepada orang lain.

Kini, perjalanan itu telah selesai. Kenangannya tinggal bersama keluarga dan masyarakat Malaysia. (An/Simpulindo).


**Cek berita dan artikel terbaru di Saluran WhatsApp simpulindo.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *