Simpulindo.com, Jakarta – Sebanyak 55 persen responden yang memilih Prabowo Subianto pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 menyatakan tidak akan memilihnya kembali jika pemilihan digelar saat survei dilakukan. Temuan ini tercantum dalam laporan evaluasi dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang dirilis Center of Economic and Law Studies (CELIOS).
Hasil survei itu dipaparkan dalam peluncuran laporan Rapor Kinerja 2 Tahun Pemerintahan Prabowo–Gibran secara virtual pada Minggu (11/10/2026).
Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, mengatakan, 27 persen responden yang sebelumnya memilih Prabowo menyatakan akan kembali memilihnya. Sementara itu, 19 persen responden belum menentukan pilihan.
“Jadi jika ada pilpres mendatang, 55 persen itu bilang bahwa tidak akan memilih kembali Prabowo, dan 27 persen yang menjawab akan memilih kembali. Sisanya 19 persen tidak tahu,” ujar Bhima.
Survei masyarakat umum tersebut melibatkan 1.142 responden. Pengumpulan data berlangsung pada 15 September hingga 9 Oktober 2026 menggunakan metode non-probability sampling melalui Meta Ads. CELIOS kemudian menerapkan pembobotan untuk menyesuaikan komposisi sampel dengan karakteristik populasi yang menjadi acuan.
Pertanyaan mengenai pilihan politik diajukan kepada responden yang memilih Prabowo pada Pilpres 2024. Mereka ditanya apakah akan memilih kembali Prabowo setelah melihat kinerja pemerintahan selama dua tahun terakhir jika pemilihan digelar saat survei dilakukan.
Angka tersebut menggambarkan niat memilih responden pada saat survei, bukan kepastian pilihan mereka pada Pilpres 2029. Meski demikian, temuan itu menjadi bagian dari gambaran evaluasi publik terhadap pemerintahan yang telah berjalan selama dua tahun.
Penilaian Kinerja Pemerintahan
Laporan CELIOS juga mencatat penilaian masyarakat terhadap kinerja Presiden dan kabinetnya. Dalam survei masyarakat umum, Prabowo memperoleh nilai rata-rata 4,6 dari skala 10. Sebanyak 48 persen responden memberikan nilai pada rentang 1 hingga 4.
Penilaian kelompok ahli terhadap Prabowo tercatat lebih rendah, dengan skor rata-rata 2,8 dari skala 10. Survei kelompok ahli ini melibatkan 129 responden.
Adapun Kabinet Merah Putih memperoleh nilai rata-rata 4,7 dari masyarakat umum. Sementara itu, kelompok ahli memberikan nilai rata-rata 2,9 dari skala 10.
Dalam laporan tersebut, CELIOS mengevaluasi pemenuhan janji pemerintahan, hasil pelaksanaan program, serta kesenjangan antara capaian yang disampaikan pemerintah dan pengalaman masyarakat. Penilaian dilakukan melalui survei terpisah terhadap masyarakat umum dan kelompok ahli.
Perbedaan skor dari kedua kelompok itu menunjukkan bahwa penilaian terhadap pemerintahan dapat berbeda berdasarkan pengalaman dan perspektif responden. Hasil survei tersebut menjadi bagian dari evaluasi CELIOS terhadap pelaksanaan kebijakan selama dua tahun pemerintahan Prabowo–Gibran.
Kriteria Pemimpin yang Diharapkan Masyarakat
CELIOS juga memotret kriteria pemimpin nasional yang diharapkan masyarakat. Sebanyak 80 persen responden menginginkan pemimpin yang mau mendengarkan aspirasi rakyat. Sementara itu, 71 persen mengutamakan komitmen terhadap pemberantasan korupsi.
Sebanyak 38 persen responden memilih pemimpin independen yang bukan kader partai politik. Adapun latar belakang militer dipilih oleh 8 persen responden, sedangkan status sebagai kader partai politik dipilih oleh 6 persen.
Di kalangan ahli, komitmen terhadap demokrasi, kebebasan sipil, dan hak asasi manusia menjadi kriteria yang dipilih 54 persen responden. Komitmen terhadap pemberantasan korupsi berada di angka 53 persen, disusul kompetensi teknokratik sebesar 49 persen dan rekam jejak kebijakan yang terukur sebesar 46 persen.
Temuan tersebut memperlihatkan sejumlah kriteria yang dianggap penting oleh responden dalam menentukan sosok pemimpin nasional. Namun, hasil survei mengenai kriteria kepemimpinan dan niat memilih kembali merupakan dua indikator berbeda sehingga tidak dapat langsung dianggap sebagai penjelasan sebab-akibat.
Niat memilih pada survei ini juga belum menggambarkan hasil Pilpres 2029. Pilihan pemilih masih dapat berubah mengikuti perkembangan kebijakan pemerintah, kondisi ekonomi, serta dinamika politik menjelang pemilihan. (An/Simpulindo).
Disclaimer: Artikel ini disajikan murni untuk pemenuhan hak informasi public. Suluruh rincian persentase, dan pernyatan disadur dari rilis laporan resmi riset center of economic and law studies (CELIOS)












