simpulindo.com, Gorut – Banjir yang melanda sejumlah desa di Kecamatan Biau menyebabkan ribuan warga terdampak dan kerugian besar di berbagai sektor.
Data sementara dari Posko Bencana Desa Luhuto mencatat sebanyak 820 kepala keluarga atau sekitar 3.258 jiwa terdampak akibat bencana tersebut.
Desa Bualo menjadi wilayah dengan jumlah terdampak terbesar. Sebanyak 212 kepala keluarga atau sekitar 771 jiwa tercatat terdampak banjir.
Di Desa Didingga, sebanyak 200 kepala keluarga atau sekitar 669 jiwa ikut terdampak.
Kemudian Desa Omuto tercatat sebanyak 168 kepala keluarga atau sekitar 562 jiwa terdampak.
Sementara di Desa Luhuto sebanyak 52 kepala keluarga atau sekitar 512 jiwa terdampak banjir.
Sedangkan di Desa Biau sebanyak 188 kepala keluarga atau sekitar 717 jiwa ikut terdampak bencana tersebut.
Kepala Desa Bualo, Harton Saleh, mengatakan hampir seluruh masyarakat mengalami kerugian akibat banjir yang datang secara tiba-tiba.
Menurutnya, bahan pokok milik warga seperti beras, bumbu dapur, hingga perlengkapan memasak rusak dan hanyut terbawa arus.
“Semua masyarakat mengalami kerugian. Ada beras yang basah, ada yang hanyut,” ujar Harton.
Tidak hanya itu, satu ekor sapi kurban milik Pemerintah Desa Bualo juga dilaporkan hanyut diterjang banjir.
Selain kerusakan rumah ringan, lahan pertanian warga turut rusak parah. Tanaman rica dan jagung milik masyarakat habis tergulung arus banjir.
“Kerugian masyarakat tidak bisa diperkirakan lagi. Yang pasti semua masyarakat terdampak. Ada juga tabung LPG yang hanyut,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Desa Didingga, Sarcito Potale, mengungkapkan dampak banjir di wilayahnya cukup memprihatinkan.
Pakan ternak, ayam petelur, hingga perlengkapan usaha warga mengalami kerusakan dengan total kerugian ditaksir mencapai Rp25 juta.
Selain itu, tiga rumah dilaporkan hanyut terbawa arus banjir.
Tidak hanya rumah hanyut, lima pondasi rumah rusak dan sekitar 20 rumah lainnya kini sudah tidak layak ditempati.
“Banyak rumah yang dapurnya sudah hanyut,” kata Sarcito.
Pendataan kerusakan masih terus dilakukan oleh aparat desa karena banyak kerugian yang belum terdata secara keseluruhan, termasuk kerusakan bahan pangan milik warga.
Sarcito juga mengungkapkan satu rumah warga di wilayah Bondungan yang hanyut menyebabkan kerugian tambahan karena sejumlah mesin usaha milik warga ikut terbawa arus.
“Kerugian di situ sekitar Rp20 juta lebih,” jelasnya.
Di Desa Biau, Kepala Desa Husain Mangopa menyebut sedikitnya satu rumah mengalami kerusakan berat.
Barang elektronik seperti kulkas dan televisi dilaporkan hanyut akibat derasnya arus banjir.
Selain itu, sekitar 3,5 ton beras milik warga ikut rusak terendam banjir.
Kerusakan juga terjadi pada akses pertanian setelah jalan tani sepanjang kurang lebih 1.500 meter mengalami kerusakan parah.
Sementara itu, data kerugian di Desa Omuto dan Desa Luhuto hingga kini masih terus dihimpun karena keterbatasan akses komunikasi dan kondisi wilayah yang belum sepenuhnya pulih pascabanjir. (Ap/Simpulindo)












