Kabupaten Gorontalo Utara

Meski Diuji Tantangan, Program G2-10 Plus di sejumlah Kecamatan Justru Panen Keberhasilan

×

Meski Diuji Tantangan, Program G2-10 Plus di sejumlah Kecamatan Justru Panen Keberhasilan

Sebarkan artikel ini

simpulindo.com, Gorut – Di tengah sorotan publik yang menyertai pemberitaan kondisi Mini Ranch Peternakan di Kecamatan Tomilito, Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara memberikan pandangan bahwa Program Gerakan 2 Ekor Kambing dan 10 Ekor Ayam (G2-10 Plus) tetap berjalan dan menjadi salah satu program prioritas yang tertuang dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

Program tersebut akan terus dikawal secara konsisten selama lima tahun ke depan. Artinya, G2-10 Plus bukan program yang bersifat sementara atau seremonial semata, melainkan sebuah komitmen jangka panjang untuk memperkuat ketahanan pangan daerah serta meningkatkan taraf ekonomi dan kesejahteraan masyarakat peternak secara berkelanjutan.

kepada simpulindo.com, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, Rusli G. Akase, menyampaikan bahwa dinamika yang terjadi di lapangan merupakan bagian dari tantangan selama pelaksanaan pilot project di Kecamatan Tomilito. Menurutnya, kondisi tersebut justru menjadi bahan evaluasi yang sangat berharga bagi penyempurnaan tata kelola manajemen dan teknis budidaya ternak ke depan.

“Dari proses itulah kami dinas memperoleh sebuah gambaran teknis berdasarkan kondisi faktual di lapangan sebagai faktor penentu keberhasilan,” ujar Rusli.

Ia menjelaskan, sebelum pelaksanaan G2-10 Plus tahun ini, anggaran yang tersedia baru teralokasi sebagian dari APBD di tengah adanya efisiensi anggaran. Saat ini, bantuan ternak sapi, kambing, dan ayam kepada masyarakat peternak telah memasuki tahapan akhir verifikasi lapangan CPCL atas sejumlah proposal yang masuk pada tahun 2025.

Metode verifikasi dilakukan dengan turun langsung ke lapangan untuk mencocokkan dan mengkonfirmasi calon penerima berdasarkan data DTSen dari Dinas Sosial.

Atas dasar pengamatan dan mempelajari berbagai persoalan pada pilot project Tomilito tersebut, Dinas Peternakan kini lebih selektif dalam penyaluran ternak yang direncanakan berlangsung pada bulan Agustus mendatang.
Prioritas akan diberikan kepada kelompok ternak yang memiliki kapasitas manajerial terukur dan siap bermitra dengan BUMDesma, sehingga setiap ekor ternak yang disalurkan benar-benar memberikan dampak nyata bagi peningkatan ekonomi masyarakat desa.

Sementara itu, perhatian publik yang terfokus pada kondisi kandang percontohan di Tomilito dinilai tidak bisa dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan program. Rusli menegaskan bahwa Mini Ranch di Kecamatan Tomilito bukanlah satu-satunya wajah dari program G2-10 Plus yang berjalan saat ini.

Aktivitas program tersebut tersebar di berbagai wilayah kecamatan dengan beragam capaian yang terus berkembang. Karena itu, penilaian terhadap program perlu dilihat secara menyeluruh, bukan hanya dari satu titik lokasi semata.

Rusli juga menegaskan bahwa ke depan Dinas Peternakan akan terus memaksimalkan sinergi dan kolaborasi lintas sektor, tidak hanya dengan BUMDesma, tetapi juga dengan Pemerintah Desa, OPD terkait, pihak swasta, hingga perguruan tinggi yang memiliki konsep pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya dalam program G2-10 Plus.

Harapannya, program tersebut benar-benar memberikan manfaat optimal dan terukur bagi masyarakat peternak di Kabupaten Gorontalo Utara.

Di beberapa wilayah, terdapat kisah keberhasilan yang belum banyak diketahui publik. Di sejumlah desa yang mengimplementasikan G2-10 Plus, khususnya pada komoditas ayam petelur di Kecamatan Tolinggula dan Kecamatan Biau, serta ternak kambing di Kecamatan Gentuma, program tersebut menunjukkan hasil yang menggembirakan.

Berdasarkan pemantauan dinas, hasil produksi telur di beberapa desa melalui dana ketahanan pangan 20 persen kini telah bekerja sama menyuplai kebutuhan telur dan daging ayam untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SPPG, Padahal selama ini, kebutuhan telur dan daging ayam masih banyak didatangkan dari luar daerah.

Rusli juga mengungkapkan bahwa kematian ternak akibat penyakit seperti diare, cacingan, dan serangan virus pada unggas menjadi tantangan nyata yang dihadapi dalam pelaksanaan budidaya ternak di Kecamatan Tomilito, Merespons kondisi tersebut, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Gorontalo Utara tidak tinggal diam.

Sehari setelah dikonfirmasi oleh rekan-rekan media terkait kondisi di lapangan, tim teknis Kesehatan Hewan (Keswan) langsung bergerak turun ke lokasi Mini Ranch pada pukul 09.00 WITA sebelum ternak dilepas untuk pengumbaran guna melakukan pemeriksaan menyeluruh sekaligus memberikan pelayanan kesehatan hewan secara langsung kepada ternak yang ada.

Bersama BUMDesma, dinas terus melakukan pemantauan lapangan dan pengendalian penyakit secara rutin. Penguatan biosecurity kini juga ditetapkan sebagai agenda prioritas dengan memberikan pelatihan dan pendampingan teknis kepada para pengelola kandang agar kapasitas mereka meningkat dalam menjaga kesehatan ternak.

Berdasarkan hasil pengamatan terbaru tim Keswan, kondisi kesehatan ternak di lokasi tersebut menunjukkan perkembangan yang menggembirakan, yakni membaik dan terkendali pasca penanganan wabah penyakit beberapa waktu lalu.

Langkah ini diharapkan tidak hanya mencegah kerugian serupa di masa mendatang, tetapi juga memastikan program G2-10 Plus terus melangkah menuju tujuan utamanya, yakni mewujudkan kemandirian ekonomi masyarakat desa.

Pada kesempatan itu, Dinas Peternakan juga menyampaikan terima kasih kepada rekan-rekan media atas kepedulian dan perhatian yang diberikan. Menurut Rusli, pengawalan media merupakan bagian nyata dari dukungan bersama dalam menyukseskan program G2-10 Plus untuk Gorontalo Utara yang lebih mandiri dan sejahtera.

“Dalam pengelolaan budidaya ternak, faktor risiko selalu ada. Yang harus benar-benar kita perhatikan dan perkuat ke depan adalah aspek biosecurity, penanganan, dan pencegahan wabah penyakit sejak dini. Ini adalah pelajaran berharga yang kita ambil bersama,” katanya.

Rusli juga mengingatkan bahwa tidak ada satu pun program pemberdayaan yang lahir dan langsung sempurna. Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah kecamatan, aparat desa, BUMDesma, dewan pengawas, hingga masyarakat luas untuk duduk bersama dan saling memberikan masukan konstruktif mengenai apa yang perlu dibenahi serta ditingkatkan demi kemajuan program tersebut.

“Dari semua jenis usaha tentu ada pasang surut. Untuk mencapai keberhasilan dibutuhkan kolaborasi dan sinergitas semua pihak. Program G2-10 Plus pun demikian, ada proses yang harus dilalui bersama untuk menuju kesuksesan. Mari kita saling memberikan masukan, apa yang perlu kita benahi dan apa yang perlu kita tingkatkan,” tuturnya.

Mengakhiri pernyataannya, Rusli secara khusus menyampaikan apresiasi kepada insan media yang telah memberikan perhatian dan mengawal jalannya program G2-10 Plus. Baginya, sorotan media bukan ancaman, melainkan bagian dari sistem akuntabilitas yang sehat dan wujud nyata kecintaan terhadap daerah.

“Kami berterima kasih kepada rekan-rekan media yang telah ikut memberikan perhatian dan mengawal program G2-10 Plus. Ini adalah wujud cinta terhadap Kabupaten Gorontalo Utara. Program ini butuh pengawalan kita bersama,” pungkasnya.

Program G2-10 Plus bukan sekadar program peternakan biasa. Program ini menjadi cerminan tekad Pemerintah Kabupaten Gorontalo Utara untuk membangun kemandirian pangan dari desa. Perjalanan tersebut, meski penuh tantangan dan keterbatasan di tengah efisiensi anggaran, tetap dilanjutkan dengan semangat, evaluasi yang jujur, serta transparansi terbuka sebagai modal utama dalam menjalankan usaha budidaya ternak. (Ap/Simpulindo)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *