Simpulindo.com, Gorontalo – Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM) menegaskan komitmennya dalam upaya pencegahan Pernikahan Anak serta praktik sunat perempuan atau Female Genital Mutilation/Cutting (FGM/CM) melalui pelaksanaan Program VOICE.
Program ini dijalankan melalui kolaborasi bersama UNICEF dengan melibatkan pelajar sebagai agen utama perubahan sosial.
Ketua PP IPM Bidang Ipmawati, Wulandari Ney, menjelaskan bahwa Program VOICE merupakan ikhtiar ideologis, organisatoris, dan sosial gerakan pelajar Muhammadiyah dalam melindungi hak anak dan perempuan, khususnya di wilayah Gorontalo.
“Pencegahan Pernikahan Anak dan FGM/CM merupakan bagian dari penerapan nilai Islam Berkemajuan yang menjunjung tinggi martabat manusia, keadilan gender, serta kemaslahatan generasi,” kata Wulandari, Minggu, (25/1/26)
Menurutnya, praktik-praktik yang merugikan anak dan perempuan bertentangan dengan prinsip kesehatan, pendidikan, serta masa depan yang berkeadilan.
Oleh karena itu, IPM memandang isu ini sebagai persoalan serius yang membutuhkan keterlibatan aktif pelajar.
Program VOICE menyasar pelajar usia 16–22 tahun yang diposisikan sebagai subjek utama perubahan sosial, bukan sekadar objek sosialisasi.
Melalui pendekatan Training of Trainers (ToT), para pelajar dibekali pengetahuan, keterampilan fasilitasi, serta kesadaran nilai agar mampu menjadi pendidik sebaya di sekolah, pesantren, dan komunitas pelajar.
Pendekatan ini dinilai efektif karena adanya kedekatan usia dan pengalaman sosial antara fasilitator dan peserta, sehingga pesan tentang perlindungan anak dan keadilan gender dapat disampaikan secara lebih relevan, komunikatif, dan berkelanjutan.
Dalam pelaksanaannya, PP IPM mengintegrasikan modul edukasi UNICEF dengan nilai Islam Berkemajuan melalui pendekatan pembelajaran kontekstual berbasis alur Inside VOICE dengan empat tahapan LFLM (Look–Fuse–Learn–Move).
Metode ini mendorong peserta untuk melihat realitas sosial, merefleksikan pengalaman personal, memahami konsep secara kritis, hingga melakukan aksi nyata di lingkungan masing-masing.
“Peserta tidak hanya menerima pengetahuan, tetapi juga membangun kesadaran dan sikap yang selaras dengan identitas pelajar Muhammadiyah serta konteks sosial budaya Gorontalo,” jelasnya.
Untuk memastikan keberlanjutan program, PP IPM menyiapkan strategi replikasi dan advokasi pasca pelatihan.
Kader VOICE didorong melakukan edukasi sebaya, fasilitasi lanjutan, serta membangun dialog dengan pendidik, pengelola sekolah atau pesantren, dan pemangku kepentingan di tingkat daerah.
Ke depan, PP IPM berkomitmen memperluas jejaring dengan pemerintah daerah, institusi pendidikan, serta organisasi masyarakat sipil guna memperkuat dukungan kebijakan dan kelembagaan terhadap agenda perlindungan anak.
“Program VOICE diharapkan menjadi gerakan pelajar yang berkelanjutan dan berdampak nyata dalam mencegah Pernikahan Anak dan FGM/CM, sekaligus memperkuat peran pelajar Muhammadiyah sebagai agen perubahan sosial yang berkemajuan dan berkeadilan,” pungkas Wulandari. (Ap/simpulindo).
Kami berkomitmen menyajikan informasi faktual dari lapangan. Ikuti perkembangan terbaru melalui saluran kami Klik Disini https://bit.ly/4n8h1GD












