Berita

Deforestasi dan Tambang Ilegal: Dua Ancaman yang Bayangi Gorontalo

×

Deforestasi dan Tambang Ilegal: Dua Ancaman yang Bayangi Gorontalo

Sebarkan artikel ini
Koordinator Bem Provinsi Gorontalo, Erlin Adam. Foto: Istimewa
Koordinator Bem Provinsi Gorontalo, Erlin Adam. Foto: Istimewa

Simpulindo.com, Gorontalo – Gelombang banjir dan longsor yang melanda Sumatera dan Aceh dalam beberapa pekan terakhir kembali memperlihatkan rentannya tata kelola lingkungan di Indonesia.

Ribuan warga terdampak, infrastruktur rusak, dan banyak keluarga kehilangan tempat tinggal. Bencana tersebut bukan semata akibat cuaca ekstrem, tetapi merupakan akumulasi panjang kerusakan ekologis: deforestasi, tambang ilegal, serta alih fungsi kawasan hulu tanpa kontrol memadai.

Secara ilmiah, banjir dan longsor bukanlah peristiwa acak. Fenomena itu lahir dari rangkaian proses ekologis yang terganggu mulai dari hilangnya tutupan hutan, rusaknya daerah tangkapan air, sedimentasi sungai, hingga berubahnya struktur tanah akibat aktivitas pertambangan.

Berbagai kajian hidrologi menunjukkan deforestasi sebesar 15 persen dapat menurunkan kemampuan tanah menyerap air hingga 60 persen, meningkatkan risiko banjir bandang tiga kali lipat, serta memperbesar potensi longsor pada lereng yang telah mengalami perubahan struktur.

Dampak serupa mulai terlihat di Gorontalo, terutama di Pohuwato, Boalemo, Gorontalo Utara, dan Bone Bolango. Pola yang terjadi di Sumatera dan Aceh kini berulang dalam skala yang mengkhawatirkan.

Tambang Ilegal Menggerus Lereng

Di Pohuwato dan Bone Bolango, aktivitas tambang ilegal terus menekan kawasan perbukitan. Lereng yang semestinya stabil dipaksa menanggung getaran alat berat, pengupasan lapisan tanah, serta perubahan aliran air bawah tanah. Kondisi ini menciptakan area jenuh air yang rentan runtuh ketika curah hujan meningkat.

Secara akademik, kombinasi pertambangan tanpa penyangga lereng, tanpa sistem drainase teknis, dan tanpa analisis kestabilan kemiringan merupakan formula pasti bagi terjadinya longsor berskala besar.

Deforestasi di Gorontalo Utara

Industri wood pellet di Pohuwato di duga turut memicu deforestasi terselubung. Meski dipromosikan sebagai sumber energi rendah emisi, praktik lapangannya memperlihatkan pengambilan kayu yang masif dan tidak selektif. Hutan sekunder kehilangan pohon-pohon besar yang mampu menahan air hingga ratusan liter. Ketika tutupan ini hilang, siklus air terganggu dan kawasan berubah menjadi titik rawan banjir.

Sedimentasi dari aktivitas tambang dan pembalakan memperdangkal banyak sungai di Gorontalo. Secara hidrologis, sungai yang dangkal membutuhkan debit lebih kecil untuk meluap. Banjir tidak lagi menunggu hujan ekstrem, hujan dengan intensitas sedang sudah cukup untuk membuat air melewati kapasitas sungai.

Desakan Mahasiswa

Koordinator BEM Provinsi Gorontalo yang juga Presiden BEM Universitas Gorontalo, Erlin Adam, menyampaikan kritik keras terhadap pemerintah daerah maupun nasional yang dinilai gagal membangun tata kelola lingkungan secara ilmiah dan berbasis data.

“Bencana di Sumatera dan Aceh bukan peristiwa alamiah. Itu implikasi dari kerusakan yang dibiarkan. Jika pola yang sama dipelihara di Gorontalo, bencana hanya tinggal menunggu waktu,” ujar Erlin.

Menurutnya, yang runtuh bukan hanya tutupan hutan, tetapi juga integritas kebijakan publik. Selama tambang ilegal diberi ruang, selama deforestasi dianggap wajar, dan selama penegakan hukum tidak berjalan, maka bencana ekologis sedang dirancang secara sadar.

Erlin menilai pendekatan pemerintah yang cenderung reaktif menunjukkan rendahnya literasi ekologis di tingkat pengambil kebijakan.

“Negara tidak boleh bekerja setelah bencana terjadi. Negara harus hadir sebelum sungai dangkal, sebelum hutan terakhir tumbang, sebelum masyarakat pertama menjadi korban,” ucapnya.

BEM Provinsi Gorontalo mendesak pemerintah mengambil langkah-langkah berbasis data dan sains, antara lain:

  1. Penindakan tegas terhadap tambang ilegal hingga ke aktor jaringan, bukan sebatas pekerja lapangan.
  2. Moratorium deforestasi untuk kepentingan industri wood pellet dan biomassa lainnya.
  3. Audit ekologis terhadap seluruh tambang berizin untuk menilai kepatuhan terhadap daya dukung lingkungan.
  4. Restorasi DAS kritis menggunakan pendekatan hidrogeologi dan pemetaan LIDAR untuk menentukan zona rawan.
  5. Penguatan sistem mitigasi bencana berbasis geospasial, termasuk early warning system banjir dan longsor.

Doa bagi Korban dan Peringatan bagi Gorontalo

Dalam pernyataannya, Erlin menyampaikan empati mendalam kepada masyarakat Sumatera dan Aceh yang tengah berduka.

“Semoga Allah SWT memberikan ketabahan dan kekuatan bagi saudara-saudara kita yang terdampak,” ucapnya.

Erlin juga turut mendoakan Gorontalo agar terhindar dari bencana ekologis yang mulai mengintai.

“Kami memohon kepada Allah SWT agar melindungi Gorontalo dari banjir, longsor, dan segala musibah. Semoga para pemimpin menjaga alam sebagai amanah, bukan komoditas,” pintanya.

Tragedi di Sumatera dan Aceh, menurut Erlin, bukan anomali. Peristiwa itu adalah hasil dari pola eksploitasi jangka pendek, lemahnya regulasi, dan pengabaian aspek ilmiah.

Gorontalo masih memiliki waktu untuk mencegah bencana. Namun, waktu tersebut tidak panjang. Jika kerusakan terus dibiarkan, sejarah kelam Sumatera dan Aceh dapat berpindah ke Gorontalo lebih cepat dari yang dibayangkan. (An/Simpulindo).


simpulindo.com berkomitmen menyajikan informasi faktual dari lapangan. Ikuti perkembangan terbaru melalui saluran kami Klik Disini https://bit.ly/4n8h1GD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *