Oleh: Mega Anastasya Diska Mokoginta
Simpulindo.com, Gorontalo – Aku menulis tentang cinta pertamaku di atas selembar kertas putih. Di sana, satu nama terpatri abadi, Ayah. Dari tangan hangatnya aku belajar arti genggaman erat, penuh kasih, dan selalu siap menuntun langkah kecil yang dulu sering tersandung. Kini, ketika waktu telah menua dan aku bukan lagi gadis kecil, rasa itu tetap sama, di hadapan Ayah, aku tetap anak yang kecil.
Tulisan ini adalah perjalanan menelusuri jejak bersama Papa, begitu aku memanggilnya. Jarak kini membentang, memisahkan kami oleh jarak dan kesibukan. Tapi kenangan tentang pelukan itu, yang dulu jadi tempat pulang setiap kali tangis tumpah karena teguran Mama atau ejekan teman, masih terasa hangat.
Papa, dengan caranya yang tenang, melindungiku dari dunia kecil yang kadang terlalu bising. Dari dirinya aku belajar tentang kekuatan bahwa luka bisa dirawat dengan tawa, dan cela bisa dijadikan bahan untuk berdamai dengan diri sendiri.
Papa memperkenalkanku pada lagu Tulus berjudul “Gajah.” Awalnya aku menolaknya. Lagu itu seperti ejekan terhadap tubuhku yang besar. Namun waktu mengubah pandangan. Aku mengerti kemudian: lagu itu bukan olok-olok, melainkan doa. Gajah bukan simbol kelemahan, tapi keteguhan dan kebijaksanaan. Dari sana aku tahu, Papa ingin aku tumbuh seperti makhluk besar itu berhati lembut namun berpikir tajam.
Kini, setiap kali pulang, aku menemukan Papa yang tak lagi sama. Kerut di wajahnya membentuk puisi waktu, tubuhnya tak sekuat dulu, dan langkahnya sering terhenti di tengah lelah. Tapi tawanya oh, tawa itu tetap sama, menjadi pelita yang tak pernah padam. Di dalamnya, ada ketenangan yang menambal sepi dan menenangkan badai di dada.
Dari Papa, aku mengenal cinta yang tidak gaduh. Cinta yang tak perlu diumbar dengan kata-kata, tapi terasa dari setiap tindakannya yang sederhana: menyiapkan sarapan, memperbaiki pagar rumah, menunggu di beranda hingga aku tiba.
Ia mengajariku untuk bermimpi, menanam kebaikan tanpa menghitung balasan, dan percaya bahwa cinta sejati adalah ketulusan yang bekerja diam-diam.
Mama, mungkin, adalah perempuan paling beruntung yang pernah kutahu. Ia bertemu dengan lelaki yang tidak banyak berbicara tentang cinta, tapi menjadikannya napas dalam hidup kami. Di rumah kecil itu, Papa bukan raja dengan mahkota, tapi penguasa yang menebar kasih tanpa pamrih. Dengan cinta yang sama, ia menobatkan Mama, aku, dan Afika menjadi ratu dalam kerajaan sederhana kami.
Kini aku mengerti, kasih Papa bukan sekadar rasa, tapi filsafat hidup. Ia berbicara lewat perbuatan, bukan kata. Lewat kerja keras yang senyap, lewat doa yang tak diucapkan, lewat senyum letih yang tak pernah kehilangan cahaya.
Menulis tentang Papa adalah cara lain untuk kembali pada masa kecil, masa di mana dunia terasa aman di bawah naungan pelukannya.
Dari semua kenangan yang tersimpan, yang paling indah adalah sosok Papa yang tak pernah berhenti menanamkan kekuatan dan cinta di setiap langkah hidupku.
Selamat Hari Ayah.
Terima kasih Papa, aku mencintaimu segenap jiwa dan ragaku.










