Penulis : Deysi Safitri Mangkat
Simpulindo.com, – GENERASI usia produktif, khususnya Generasi Z (Gen Z) dan Millenial, menyadari pentingnya pengembangan diri (self-development). Ini adalah salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas diri, baik secara pribadi maupun profesional.
Laporan Exploring Self-Development Trends Among Gen Z and Millennials yang dirilis oleh Jakpat pada Maret 2025 mengungkapkan bahwa 88% responden dari generasi Z dan milenial di Indonesia tertarik pada aktivitas pengembangan diri. Survei terhadap 1.549 responden ini menunjukkan bahwa kegiatan seperti peningkatan ibadah, pengembangan keterampilan profesional, dan peningkatan kesehatan mental menjadi fokus utama dalam upaya pengembangan diri. Temuan ini mencerminkan kesadaran yang tinggi di kalangan generasi produktif terhadap pentingnya investasi dalam pengembangan pribadi untuk meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.
“Gen Z lebih aktif dalam kegiatan self-development dibanding Milenial, menunjukkan bahwa mereka lebih terbuka mengeksplorasi kursus untuk memperluas wawasan, meningkatkan keterampilan, dan membangun kepercayaan diri. Sementara itu, Milenial lebih fokus pada peningkatan kualitas hidup dan pengembangan profesional, meskipun menghadapi tantangan dalam mengatur waktu,” ujar Lead Researcher Jakpat, Farida Hasna.
Disamping melihat bagaimana kesadaran generasi muda untuk belajar pengembangan diri, sangat penting untuk melihat sisi standarisasi perbuatan yang pastinya akan menentukan referensi dan arah pengembangan diri itu sendiri. Sebagaimana yang banyak diminati oleh orang zaman modern ini belajar ilmu pengembangan diri dari sumber referensi dari buku-buku Barat. Apakah itu salah? Jawabannya tidak sepenuhnya salah. Namun, mari coba kita lihat bagaimana pandangan Barta tentang Self-Development.
Paradigma Barat Kapitalis :
- Self-Development dalam paradigma Barat Kapitalis tidak dapat dilepaskan dari pengaruh Humansme dan Sekularisme. Dalam kerangka ini, manusia diposisikan sebagai pusat penentu nilai dan makna hidup. Konsep ini kemudian diperkuat oleh sistem Kapitalisme, yang menekankan kompetisi, efisiensi, dan akumulasi kapital sebagai indikator keberhasilan.
- Tokoh seperti Abraham Maslow mempopulerkan gagasan aktualisasi diri, di mana puncak perkembangan diri adalah realisasi potensi pribadi. Dalam praktiknya, self development Barat banyak diarahkan pada peningkatan produktivitas, pencapaian karier, kebebasan individu, kepuasan personal.
- Barat Kapitalis cenderung mengadopsi relativisme moral, di mana nilai ditentukan oleh konteks dan manfaat. Relativisme memberi fleksibilitas dan adaptasi perubahan zaman. Namun, di sisi lain, ia membuka ruang legitimasi terhadap perilaku yang merugikan selama dianggap tidak bermanfaat.
Orientasi ini mengandung problem mendasar. Ketika manusia menjadi pusat, maka standar benar salah menjadi relatif. Apa yang diangga baik sering kali ditentukan oleh manfaat atau kepuasan individu, bukan oleh nilai yang absolut. Akibatnya, muncul fenomena krisis makna, kecemasan eksistensial, dan tekanan psikologis akibat kompetisi tanpa batas. Self development ala Barat Kapitalis sering terlihat menjanjikan, tapi diam-diam punya sisi gelap; overthingking karena terlalu fokus pada diri sendiri, Burnout karena terlalu mengejar target, kehilangan makna hidup. Kenapa? Karena semua berputar di “aku.”
Konsep ini sangat jauh berbeda dari paradigma Islam. Kita perlu memahami bahwa Islam bukan hanya sekadar agama ritual saja. Islam adalah agama yang mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan, hubungan sesasa manusia dan juga manusia dengan dirinya sendiri. Self development dalam pandangan Islam bukan hanya tentang melihat manusia sebagai individu, tetapi keterikatan individu dengan pencipta dan hubungan serta batasan dalam lingkup sosial.
Self-Development dalam paradigma Islam :
- Pengembangan diri berbasis penghambaan
Berbeda secara fundamental, Islam memandang pengembangan diri sebagai bagian dari misi utama manusia, yaitu penghambaan kepada Allah SWT. Dalam kerangka ini, manusia tidak berdiri sebagai pusat, melainkan sebagai hamba dan pengelola kehidupan yang tunduk pada aturan ilahi. Konsep diri dalam Islam mencakup dua peran, yaitu hamba Allah dan Khalifah. Dalam Islam tidak hanya menekankan pada perbaikan individu, tetapi juga perubahan sosial. Ada tanggung jawab kolektif dalam menjaga kebaikan melalui mekanisme Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Dengan demikian pengembangan diri tidak berhenti pada level personal, tetapi berlanjut pada upaya transformasi masyarakat.
- Terbentuknya ketakwaan
Pengembangan diri tidak diarahkan pada sekadar pencapaian duniawi, tetapi pada terbentuknya ketakwaan. Konsep Islam mengajarkan kesimbangan melalui Tazkiyatun Nafs, di mana kita bukan diajak berkembang saja, tapi juga menenangka hati, mengontrol nafsu, dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT.
- Standar halal dan haram
Dalam Islam tidak melihat perbuatan sebatas asas manfaat. Islam menetapkan standar halal dan haram yang bersifat tetap. Islam menawarkan kepastian nilai yang menjaga stabilits moral, meskipun menuntut konsistensi dan komitmen tinggi dari individu.
Sejauh ini melihat praktik dari penerapan teori self development dari Barat umumnya akan dinilai tidak semua merugikan. Ya benar. Banyak teknik menarik yang ditawarkan. Mulai dari mengatur waktu, meningkatkan fokus, dll. Tapi di sinilah pentingnya sadar bahwa teknik itu alat, bukan tujuan. Arah hidup harus tetap jelas.
Jadi, mau jadi versi terbaik yang mana?
Apakah versi terbaik diri itu yang paling sukses di mata manusia? Atau yang paling taat di hadapan Allah?
Terakhir, dalam Islam selain aspek kesadaran individu akan keterhubungan dengan Allah SWT., adanya sikap Amar Ma’ruf Nahi Munkar di lingkungan sosial, peran negara juga sangat mempengaruhi pengembangan diri. Kita tau bahwa faktor eksternal jauh lebih banyak dan menjadi sumber penghalang jika tidak dikontrol. Misalnya, peran negara dalam pengontrolan media sebagai sumber informasi yang hari ini bebas dikonsumsi oleh semua orang tanpa filter. Peran negara juga dalam menjamin fasilitasi berbagai bidang keilmuan sebagai bekal pengembangan diri.
Dalam Islam yang memandang hidup secara menyeluruh (Islam Kaffah), self development tidak dipahami sebagai proyek individu semata, tetapi sebagai hasil sinergi antara individu, masyarakat, dan negara. Negara memiliki peran strategis untuk membentuk lingkungan yang memungkinkan manusia berkembang sesuai tujuan penciptaannya. Menjadi hamba Allah dan Khalifah di bumi. Negara menjadi penjaga kemurnian akidah Islam di ruang publik, menjamin pendidikan yang berbasis pembentukan Syakhsiyah Islamiyah, pemenuhan kebutuhan dasar, sistem hukum yang mendidik (zawajir/pencegahan dan jawazir/penebus atau memberi efek jera).
Wallahua’lam
Kami berkomitmen menyajikan informasi faktual dari lapangan. Ikuti perkembangan terbaru melalui saluran kami Klik Disini https://bit.ly/4n8h1GD












