Simpulindo.com, Gorontalo – Bulan Rajab kembali hadir dalam kalender Hijriah dengan membawa makna khusus bagi umat Islam. Sebagai salah satu dari empat bulan haram yang dimuliakan, Rajab kerap dipandang sebagai ruang jeda untuk menata batin, memperkuat ibadah, dan menyiapkan diri menyongsong Ramadan.
Anggota Komisi Fatwa MUI Provinsi Sulawesi Selatan, Yusri Muhammad Arsyad, menuturkan bahwa Rajab memiliki nilai spiritual yang kuat, terlebih ketika berdekatan dengan momentum tahun baru Islam. Bulan ini menjadi kesempatan bagi umat Islam untuk memperbanyak amal saleh sekaligus menahan diri dari perbuatan yang merusak nilai kemanusiaan.
“Bulan Rajab adalah bulan yang Allah muliakan. Setiap kebaikan yang dilakukan memiliki nilai yang lebih besar, sehingga umat Islam dianjurkan memperkuat ibadah dan menjaga perilaku,” ujar Yusri, Minggu (21/12/2025), dikutip dari rri.co.id.
Rajab kerap disebut sebagai gerbang menuju dua bulan penuh keberkahan berikutnya, Sya’ban dan Ramadan. Karena itu, periode ini dinilai tepat untuk membangun kesiapan spiritual sejak dini, baik melalui peningkatan kualitas ibadah maupun pembenahan niat.
“Rajab menjadi momentum melatih diri dan memperbaiki ibadah sebelum memasuki Ramadan,” ucap Yusri.
Pergantian tahun Hijriah yang beriringan dengan Rajab, lanjut Yusri, seharusnya dimaknai sebagai ajakan untuk bermuhasabah. Perubahan penanggalan tidak sekadar menandai waktu, melainkan mengingatkan kembali makna hijrah sebagai proses berpindah dari keburukan menuju kebaikan.
“Tahun baru Islam mengingatkan pada semangat hijrah, yakni perubahan sikap dan orientasi hidup ke arah yang lebih baik,” katanya.
Dalam konteks itu, Yusri mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak pada praktik ritual yang tidak memiliki dasar syariat. Rajab dan tahun baru Hijriah, menurutnya, sebaiknya diisi dengan amalan yang dianjurkan agama, seperti doa, zikir, puasa sunah, serta peningkatan kepedulian sosial.
“Esensi ibadah terletak pada keikhlasan dan kesesuaian dengan tuntunan Rasulullah,” ujarnya.
Rajab merupakan bulan ketujuh dalam kalender Hijriah dan termasuk dalam kategori bulan haram bersama Dzulqa’dah, Zulhijjah, dan Muharram.
Penghormatan terhadap bulan Rajab telah dikenal jauh sebelum Islam datang. Pada masa Arab pra-Islam, Rajab disepakati sebagai masa damai untuk menghentikan peperangan antarsuku. Tradisi tersebut kemudian dipertegas dalam Islam dengan dimensi spiritual yang lebih mendalam.
Dalam sejarah Islam, Rajab juga mencatat sejumlah peristiwa penting, antara lain Isra Mikraj, yang diyakini terjadi pada malam 27 Rajab, serta penetapan kewajiban salat lima waktu. Selain itu, bulan ini menjadi saksi hijrah pertama kaum muslimin ke Habasyah dan berlangsungnya Perang Tabuk pada tahun ke-9 Hijriah.
Tidak ada ibadah khusus yang diwajibkan secara eksplisit pada bulan Rajab. Namun, merujuk tafsir Ibnu Abbas RA atas Surah At-Taubah ayat 36, umat Islam diingatkan untuk lebih menjaga diri dari perbuatan maksiat, terutama pada bulan-bulan haram.
Bulan Rajab seharusnya dimaknai sebagai ruang latihan spiritual. Umat Islam didorong menjaga konsistensi salat lima waktu, memperbanyak puasa sunah, meningkatkan amal kebajikan, serta melakukan refleksi diri.
Lebih dari itu, Rajab juga mengandung pesan filosofis tentang hijrah sebagai perubahan sikap dan orientasi hidup. Sebuah ajakan untuk meninggalkan kebiasaan yang kurang baik dan menapaki kehidupan yang lebih bermakna, sebagai bekal menyongsong bulan suci Ramadan. (An/Simpulindo).
simpulindo.com berkomitmen menyajikan informasi faktual dari lapangan. Ikuti perkembangan terbaru melalui saluran kami Klik Disini https://bit.ly/4n8h1GD












