Opini

Ketika Pikiran Tak Lagi Mengenali Hati

×

Ketika Pikiran Tak Lagi Mengenali Hati

Sebarkan artikel ini
Dr. Subhan Ashir Dai, S.H.,M.H. Foto: Istimewa
Dr. Subhan Ashir Dai, S.H.,M.H. Foto: Istimewa

Penulis: Dr. Subhan Ashir Dai, SH.MH

Simpulindo.com, Gorontalo – Dalam kesearian, kita kerap terjebak pada asumsi bahwa orang jahat adalah mereka yang sejak awal memiliki niat buruk yang utuh. Seolah-olah pelaku kejahatan adalah mereka yang sejak awal memang memilih menjadi jahat. Pandangan semacam ini terasa nyaman, sebab menempatkan kejahatan jauh dari diri kita. Padahal, jika kita mau jujur melihat ke dalam diri, kejahatan sebenarnya bermula dari sebuah keretakan sederhana yakni terputusnya hubungan antara pikiran dan hati. Ada semacam putusnya kabel penghubung antara logika di kepala dan kompas moral di dada.

​Hati, pada dasarnya adalah rumah bagi empati yang bekerja secara intuitif. Ia tahu kapan seseorang terluka dan ia merasa tidak nyaman saat kita melakukan sesuatu yang tidak adil. Namun, pikiran manusia adalah mesin yang sangat licik. Pikiran bisa menciptakan seribu satu alasan, pembenaran, dan perhitungan untuk membuat tindakan yang salah terlihat masuk akal.

​Perilaku jahat muncul justru di saat pikiran mulai “pintar” membungkam hati. Misalanya, saat seseorang menipu demi keuntungan, pikirannya mungkin berkata, “Ini demi bertahan hidup,” atau “Semua orang juga melakukannya.” Di titik inilah sinkronisasi itu hilang. Pikiran tidak lagi menjadi pelayan bagi nilai-nilai kemanusiaan, melainkan menjadi alat untuk menginjak-injak nurani sendiri.

​Kejahatan, dalam bentuknya yang paling murni, adalah ego yang sedang bekerja sendirian. Ketika pikiran berjalan tanpa kendali hati, manusia berubah menjadi mesin kalkulasi yang dingin. Ia bisa menghitung untung-rugi tanpa memedulikan rasa sakit yang ditimbulkannya. Ia menjadi tidak utuh karena ia telah memisahkan dirinya menjadi dua bagian yang saling asing.

​Pada akhirnya, integritas bukanlah soal menjadi sempurna, melainkan soal menjaga agar pikiran dan hati tetap berada dalam satu ruangan yang sama. Menjadi jahat itu mudah; cukup biarkan pikiranmu berlari sejauh mungkin hingga ia tak lagi bisa mendengar bisikan hatimu sendiri. Sebaliknya, tetap menjadi baik adalah kerja keras untuk memastikan bahwa setiap logika yang kita bangun, selalu memiliki akar pada kemanusiaan yang kita rasakan. (An/Simpulindo).


Kami berkomitmen menyajikan informasi faktual dari lapangan. Ikuti perkembangan terbaru melalui saluran kami Klik Disini https://bit.ly/4n8h1GD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *