Pendidikan

INTERAKSI SOSIAL HIDUP DI ERA TATAP MUKA DAN CHATTING

×

INTERAKSI SOSIAL HIDUP DI ERA TATAP MUKA DAN CHATTING

Sebarkan artikel ini

Pendahuluan

Interaksi sosial merupakan unsur fundamental dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial. Melalui interaksi sosial, individu tidak hanya membangun hubungan dengan orang lain, tetapi juga membentuk identitas diri, memahami norma sosial, serta menginternalisasi nilai dan budaya yang berlaku dalam masyarakat. Dalam kajian sosiologi, interaksi sosial dipandang sebagai prasyarat utama terbentuknya struktur sosial, keteraturan sosial, dan dinamika kehidupan bermasyarakat (Soekanto, 2017). Tanpa adanya interaksi sosial yang berkelanjutan, kehidupan sosial tidak akan berjalan secara harmonis.

Seiring dengan perkembangan zaman, bentuk dan pola interaksi sosial mengalami perubahan yang signifikan. Pada masyarakat tradisional hingga awal masyarakat modern, interaksi sosial umumnya berlangsung secara langsung melalui tatap muka. Pertemuan fisik memungkinkan individu berkomunikasi secara utuh, baik melalui bahasa verbal maupun isyarat non verbal seperti ekspresi wajah, gerak tubuh, dan intonasi suara. Bentuk interaksi ini dinilai mampu menciptakan kedekatan emosional dan hubungan sosial yang lebih mendalam (Rahmat, 2018).

Oleh karena itu, interaksi tatap muka selama ini dianggap sebagai bentuk komunikasi sosial yang paling ideal. Namun, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, khususnya kemunculan internet, telepon pintar, serta aplikasi pesan instan, telah membawa perubahan besar dalam cara manusia berinteraksi. Masyarakat kini tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pertemuan langsung untuk berkomunikasi. (Castells, 2010). Interaksi sosial dapat dilakukan melalui media digital, salah satunya dalam bentuk chatting. Chatting memungkinkan individu untuk saling berkomunikasi tanpa terikat oleh jarak dan waktu, sehingga interaksi sosial menjadi lebih cepat, praktis, dan efisien.

Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan penting mengenai bagaimana interaksi sosial seharusnya dijalankan di era digital. Apakah interaksi tatap muka masih memiliki peran yang signifikan di tengah dominasi komunikasi digital? Bagaimana kualitas hubungan sosial yang dibangun melalui chatting dibandingkan dengan interaksi langsung? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi relevan mengingat interaksi sosial merupakan elemen kunci dalam menjaga kohesi sosial dan keharmonisan kehidupan bermasyarakat.

Konsep Interaksi Sosial dalam Perspektif Sosiologi

Dalam perspektif sosiologis, interaksi sosial tidak terjadi secara otomatis, melainkan mensyaratkan adanya kondisi tertentu. Soekanto (2017) menegaskan bahwa terdapat dua syarat utama terjadinya interaksi sosial, yaitu kontak sosial dan komunikasi. Kontak sosial merujuk pada terjadinya hubungan awal antara pihak-pihak yang berinteraksi, baik secara langsung (tatap muka) maupun tidak langsung (melalui perantara).

Sementara itu, komunikasi merupakan proses penyampaian pesan, gagasan, atau makna dari satu pihak kepada pihak lain yang kemudian diinterpretasikan dan direspon. Tanpa adanya komunikasi yang bermakna, kontak sosial tidak akan berkembang menjadi interaksi sosial yang utuh.

Seiring dengan perkembangan masyarakat dan teknologi, bentuk kontak sosial mengalami perluasan makna. Kontak sosial tidak lagi terbatas pada pertemuan fisik, tetapi juga dapat berlangsung melalui media teknologi komunikasi. Dalam konteks ini, interaksi sosial melalui media digital, seperti chatting, tetap dapat dikategorikan sebagai interaksi sosial sepanjang memenuhi unsur kontak dan komunikasi. Hal ini menunjukkan bahwa interaksi sosial bersifat dinamis dan adaptif terhadap perubahan sosial dan teknologi (Castells, 2010).

Interaksi Sosial Tatap Muka

Interaksi sosial tatap muka adalah bentuk interaksi langsung yang melibatkan kehadiran fisik individu serta komunikasi verbal dan non verbal secara bersamaan. Dalam interaksi ini, ekspresi wajah, intonasi suara, bahasa tubuh, dan kontak mata menjadi unsur penting dalam menyampaikan makna pesan. Menurut Soerjono Soekanto (2017), interaksi sosial tatap muka memungkinkan terjadinya hubungan sosial yang lebih mendalam karena adanya umpan balik secara langsung dan spontan.

Selain itu, interaksi tatap muka berperan penting dalam membangun empati, kepercayaan, dan solidaritas sosial. Dalam konteks pendidikan, keluarga, dan masyarakat, komunikasi langsung dinilai lebih efektif dalam menanamkan nilai-nilai sosial dan moral (Ahmadi, 2019). Namun, keterbatasan jarak, waktu, dan situasi sering menjadi hambatan dalam pelaksanaannya.

Interaksi Sosial melalui Chatting

Chatting merupakan bentuk interaksi sosial yang dimediasi oleh teknologi digital, seperti WhatsApp, Telegram, Instagram, dan platform media sosial lainnya. Interaksi ini bersifat tidak langsung dan dapat berlangsung secara sinkron (real-time) maupun asinkron (tidak bersamaan). Menurut Castells (2010), masyarakat modern telah memasuki era masyarakat jaringan (network society), di mana teknologi digital menjadi sarana utama dalam membangun relasi sosial.

Interaksi melalui chatting memiliki keunggulan dalam hal efisiensi, fleksibilitas, dan jangkauan yang luas. Individu dapat berkomunikasi tanpa terikat ruang dan waktu. Namun, keterbatasan unsur non verbal dalam chatting sering menimbulkan kesalahpahaman makna pesan. Selain itu, penggunaan bahasa singkat, emoji, dan simbol digital dapat mengurangi kedalaman komunikasi interpersonal (Turkle,2015).

Perbandingan Interaksi Tatap Muka dan Chatting

Interaksi tatap muka dan chatting memiliki karakteristik yang berbeda namun saling melengkapi. Interaksi tatap muka lebih kaya secara emosional dan sosial, sedangkan chatting lebih praktis dan adaptif terhadap gaya hidup modern. Menurut Rakhmat (2018), efektivitas komunikasi sangat dipengaruhi oleh konteks dan tujuan interaksi. Untuk hubungan yang bersifat personal dan emosional, tatap muka lebih ideal, sedangkan untuk koordinasi dan pertukaran informasi cepat, chatting menjadi pilihan utama.

Namun, dominasi interaksi digital tanpa diimbangi interaksi langsung berpotensi menurunkan kualitas hubungan sosial, seperti menurunnya kepekaan sosial dan meningkatnya individualisme (Putnam, 2000). Oleh karena itu, keseimbangan antara kedua bentuk interaksi sangat diperlukan.

Penutup

Perkembangan teknologi telah mengubah pola interaksi sosial dari yang semula berbasis tatap muka menjadi kombinasi antara interaksi langsung dan digital. Interaksi sosial melalui chatting memberikan kemudahan dan efisiensi, sementara interaksi tatap muka tetap memiliki peran penting dalam membangun hubungan sosial yang berkualitas.

Masyarakat modern perlu bijak dalam memanfaatkan teknologi komunikasi agar tidak kehilangan nilai-nilai sosial yang mendasar. Keseimbangan antara interaksi tatap muka dan chatting menjadi kunci dalam menjaga keharmonisan kehidupan sosial di era digital.

Daftar Pustaka

Ahmadi, A. (2019). Psikologi Sosial. Jakarta: Rineka Cipta.

Castells, M. (2010). The Rise of the Network Society. Oxford: Blackwell Publishing.

Putnam, R. D. (2000). Bowling Alone: The Collapse and Revival of American Community. New York: Simon & Schuster.

Rakhmat, J. (2018). Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Soekanto, S. (2017). Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.

Turkle, S. (2015). Reclaiming Conversation: The Power of Talk in a Digital Age. New York: Penguin Press.

Disusun Oleh Kelompok 6:
Salsa Adelia Hamzah
Siti Nurhalizah Mooduto
Nahril Ramadani Mustapa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *