Pendahuluan
Overthinking bukan cuma soal mikir berlebihan. Ternyata, kebiasaan berpikir terus-menerus saat kita diam atau rebahan dapat benar-benar “mengacaukan” cara kerja otak. Peneliti menemukan bahwa overthinking yang berlangsung lama dapat mengganggu sistem logika, memori, dan kemampuan menilai realitas. Akibatnya, seseorang bisa sulit membedakan mana pikiran realistis dan mana yang hanya ketakutan atau skenario khayalan.
Menurut berbagai laporan neuroscience, overthinking berdampak langsung pada hippocampus, bagian otak yang bertugas menyimpan memori dan memproses informasi. Gangguan pada area ini dapat membuat seseorang mengalami perubahan ingatan tanpa disadari mulai dari salah mengingat, mencampur-adukkan informasi, hingga menilai situasi dengan keliru.
Temuan ini selaras dengan pernyataan ahli neurobiologi Bruce S. McEwen (2017) “Stres dapat menyebabkan ketidakseimbangan pada sirkuit saraf yang berperan dalam kognisi, pengambilan keputusan, kecemasan, dan suasana hati.”
Kutipan ini menegaskan bahwa stres jangka panjang termasuk overthinking kronis dapat mengacaukan sistem kerja otak yang mengatur cara kita berpikir dan merespons emosi.
Penelitian lain menemukan bahwa overthinking dapat meningkatkan produksi kortisol, yaitu hormon stres. Bila hormon ini berada dalam kadar tinggi terlalu lama, ia dapat merusak jaringan otak yang mengatur logika, rasa aman, dan kemampuan mengambil keputusan. Beberapa publikasi kesehatan juga menunjukkan bahwa kortisol berlebih dapat mengurangi volume otak, terutama di area penting untuk fokus dan memori.
Hal ini ditegaskan oleh Alexa Beiser (2018) dalam studi tentang hubungan kortisol dan fungsi otak bahwa ada hubungan yang kuat antara tingginya kadar hormon stres dan menurunnya fungsi kognitif. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa kortisol dapat memiliki efek ganda. Menurut ahli neuropsikologi Elizabeth Goldfarb (2023) mengungkapkan bahwa
kortisol dapat membantu hippocampus berfungsi lebih baik untuk mendukung memori emosional.
Meski demikian, manfaat ini hanya terjadi dalam kondisi tertentu. Jika kortisol diproduksi terlalu lama akibat overthinking, efeknya justru merusak struktur otak. Tidak mengherankan jika orang yang mengalami overthinking kronis menjadi lebih cepat lupa, mudah tersinggung, sulit tidur, atau merasa pikirannya “berisik” meski tubuh sedang beristirahat. Overthinking yang dibiarkan berlarut-larut juga dapat mengganggu memori jangka pendek maupun jangka panjang. Fenomena ini tidak hanya dialami oleh orang dewasa, tetapi juga remaja yang sering rebahan sambil berselancar di media sosial dan memikirkan banyak hal secara bersamaan. Kondisi ini dapat menyebabkan memori “tertukar”, salah mengingat percakapan, lupa menaruh barang, atau membayangkan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah terjadi. Dalam banyak kasus, tekanan mental yang berlebihan juga menimbulkan memory distortion, yaitu perubahan ingatan akibat stres berkepanjangan. Bahkan beberapa orang mengalami “halusinasi ringan”, seperti merasa mendengar notifikasi padahal tidak ada.
Dalam psikologi modern, inti dari overthinking disebut rumination, yaitu kebiasaan memutar ulang pikiran negatif. Hal ini dijelaskan oleh Edward R. Watkins (2020) bahwa rumination memiliki banyak konsekuensi negatif, memperpanjang suasana hati negatif, mengganggu kemampuan memecahkan masalah, dan memperburuk respons stres fisiologis.
Jika dibiarkan terus-menerus, overthinking dapat menyebabkan burnout, kecemasan berat, insomnia, hingga meningkatkan risiko gangguan mental. Para ahli menekankan pentingnya mengelola overthinking sejak dini agar otak tetap sehat dan emosi lebih stabil. Langkah-langkah sederhana seperti tidur cukup, membatasi gadget sebelum tidur, olahraga rutin, serta teknik pernapasan dapat membantu menurunkan aktivitas otak. Berbicara dengan teman dekat atau konselor juga bisa menjadi cara efektif untuk mengurangi beban pikiran. Pada akhirnya, karena pikiran adalah pusat dari perilaku dan perasaan kita, menjaga kesehatan mental berarti menjaga cara kita melihat dunia dan diri sendiri.
Diam belum tentu tenang sering kali justru di situlah perang terbesar terjadi.






