PROGAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVESITAS NEGERI GORONTALO
TAHUN 2025
PENDAHULUAN
Penggunaan media sosial bukan hanya soal hiburan atau sekadar melihat aktivitas orang lain. Ternyata, penggunaan yang berlebihan dapat memengaruhi cara kerja otak dan kesehatan mental seseorang. Mirip seperti stres kronis yang diabaikan, paparan media sosial yang terlalu intens juga dapat mengubah fungsi otak secara bertahap. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan dapat mengganggu kemampuan otak dalam memproses informasi dan membedakan realita. Banyak pengguna yang akhirnya kesulitan menilai mana informasi yang benar dan mana yang hanya manipulasi visual atau narasi yang dibuat-buat.
Menurut sejumlah temuan ilmiah, media sosial berpengaruh langsung pada hippocampus, bagian otak yang bertugas menyimpan memori dan mengatur konsentrasi. Konten berlebihan mulai dari berita, hiburan, hingga drama sosial membuat hippocampus bekerja lebih keras, menyebabkan seseorang sulit fokus dan lebih mudah merasa cemas.
Fakta dan Mitos tentang Media Sosial dan Kesehatan Mental
Ada banyak anggapan keliru tentang dampak media sosial, sehingga penting untuk membedakan mana yang benar dan mana yang hanya mitos. Salah satu mitos yang sering terdengar adalah bahwa media sosial tidak berpengaruh pada otak dan hanya sekadar hiburan. Namun Faktanya, penelitian menunjukkan bahwa konsumsi informasi yang berlebihan dari media sosial dapat memengaruhi area otak yang bertugas mengatur memori, konsentrasi, serta emosi. Mitos lainnya mengatakan bahwa semua pengguna media sosial pasti akan mengalami stres atau depresi. Kenyataannya, tidak semua penggunaan media sosial berdampak negatif pengaruhnya sangat bergantung pada durasi penggunaan, jenis konten yang dikonsumsi, dan kondisi psikologis masing-masing individu.
Ada pula kepercayaan bahwa kebiasaan scrolling sebelum tidur tidak berbahaya. Padahal, cahaya biru dari layar dan arus informasi cepat yang diterima otak sebelum tidur dapat mengganggu produksi hormon melatonin, sehingga menyebabkan sulit tidur dan memicu kecemasan. Selain itu, muncul juga mitos bahwa anak muda paling kuat dalam menghadapi tekanan digital. Akan tetapi faktanya, remaja justru menjadi kelompok yang paling rentan karena perkembangan otak mereka, terutama bagian yang mengatur kontrol impuls dan emosi, belum sepenuhnya matang. Hal ini membuat mereka lebih mudah terdampak oleh tekanan sosial, perbandingan diri, dan dinamika digital yang intens.
Salah satu peneliti dari Stanford University, Anthony D. Wagner (2016), menyatakan bahwa otak manusia tidak dirancang untuk memproses aliran informasi tanpa batas tanpa menimbulkan konsekuensi. Artinya paparan konten berlebihan termasuk media sosial memaksa otak bekerja di luar kapasitas normalnya. Akibatnya, pengguna media sosial intens sering mengalami perubahan memori tanpa disadari. Mereka bisa salah mengingat informasi, cepat bingung, dan mudah terpengaruh oleh opini orang lain. Kondisi ini semakin buruk jika dibarengi tekanan emosional seperti perbandingan sosial, cyberbullying, atau komentar negatif.
Dalam penelitian psikologi kognitif, Julia Firth (2019) menegaskan paparan media sosial yang berlebihan melemahkan kemampuan otak untuk menyaring dan menyimpan memori yang akurat. Artinya: Semakin sering otak menerima konten berlebih, semakin besar risiko terjadinya distorsi memori.
Penelitian lain juga menemukan bahwa media sosial bisa meningkatkan risiko kecemasan, depresi, bahkan trauma psikologis ringan. Ketika seseorang terus-menerus terpapar tekanan digital, tubuh memproduksi hormon kortisol berlebihan hormon yang sama yang muncul saat stres kronis.
Hal ini sejalan dengan pendapat Elizabeth Hoge (2020) yang mengatakan bahwa stres digital yaitu kondisi kelelahan mental dan emosional yang muncul akibat penggunaan teknologi dan perangkat digital secara berlebihan. Kondisi ini dapat menimbulkan rasa cemas, kewalahan, serta kesulitan berkonsentrasi dalam aktivitas sehari-hari, karena otak terus-menerus berada dalam keadaan siaga yang berlebihan sehingga memicu kecemasan dan kelelahan emosional. Artinya notifikasi dan tekanan online memicu sistem stres otak bekerja tanpa henti. Karena kortisol yang terlalu tinggi dapat memengaruhi jaringan otak yang mengatur logika dan kontrol emosi, maka tidak heran jika banyak pengguna akhirnya, mudah tersinggung, sulit tidur, cepat lupa, sulit mengambil keputusan, merasa hidup berantakan padahal tidak.
Beberapa laporan juga menunjukkan bahwa penggunaan media sosial yang intens dapat menurunkan volume area otak yang terkait dengan memori dan konsentrasi. Jika pola ini berlangsung terus-menerus, daya ingat jangka pendek maupun panjang bisa ikut terganggu.
Fenomena ini tidak hanya dialami orang dewasa, tetapi juga remaja dan anak-anak kelompok usia yang paling aktif menggunakan media sosial. Lingkungan digital yang penuh tekanan dapat membuat memori mereka mudah berubah atau tertukar, seperti salah mengingat percakapan, salah menangkap informasi, atau terlalu percaya dengan persepsi yang belum tentu benar.
Pada beberapa kasus ekstrem, individu yang mengalami tekanan digital bisa merasakan halusinasi ringan seperti merasa melihat notifikasi padahal tidak ada. Ini merupakan bentuk distorsi memori dan persepsi karena otak dipaksa menyesuaikan diri dengan arus informasi berlebih. Jika kondisi ini terus berlanjut, pengguna dapat mengalami digital burnout, depresi, gangguan kecemasan, hingga masalah kognitif di usia dewasa.
Tidak heran jika perilaku remaja dan teknologi mengungkapkan penggunaan media sosial yang berlebihan sangat berkaitan dengan penurunan kesehatan mental dan stabilitas kognitif pada anak muda. Artinya penggunaan media sosial yang tidak terkontrol berdampak langsung pada kondisi psikologis dan fungsi otak remaja (Jean Twenge, 2017).
Para ahli menyarankan pentingnya menerapkan manajemen penggunaan media sosial sejak dini untuk menjaga kesehatan mental dan fungsi otak. Langkah sederhana antara lain: Tidur yang cukup membantu memulihkan energi dan menstabilkan emosi, sementara membatasi screen time dapat mencegah stres digital dan kelelahan mental. Memilih konten yang sehat menjaga pikiran tetap positif, dan olahraga rutin meningkatkan hormon endorfin yang membuat suasana hati lebih baik. Selain itu, membatasi paparan berita negatif membantu mengurangi kecemasan, serta berbicara dengan orang terdekat atau konselor saat merasa kewalahan dapat memberikan dukungan emosional dan solusi yang lebih sehat.
Karena kesehatan mental dan memori adalah bagian penting dari jati diri, menjaga keseimbangan dalam menggunakan media sosial adalah langkah penting agar hidup tetap stabil dan pikiran tetap sehat.
Penutup
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa media sosial memiliki dampak nyata terhadap kesehatan mental, terutama ketika digunakan secara berlebihan. Paparan informasi yang terus-menerus, tekanan sosial digital, serta perubahan pola interaksi dapat memengaruhi fungsi otak, memicu stres digital, dan meningkatkan risiko kecemasan maupun gangguan memori. Pemahaman yang tepat mengenai fakta dan mitos seputar media sosial menjadi penting agar masyarakat lebih bijak dalam menilai efeknya terhadap kesejahteraan psikologis.
Dengan melihat berbagai temuan ilmiah, pengelolaan penggunaan media sosial perlu dilakukan sejak dini melalui pembatasan durasi, pemilihan konten yang sehat, dan menjaga keseimbangan aktivitas harian. Upaya sederhana seperti istirahat cukup, olahraga rutin, serta mengurangi paparan konten negatif dapat membantu menjaga stabilitas mental di tengah kehidupan digital yang cepat dan padat. Dengan penggunaan yang terarah, media sosial dapat dimanfaatkan secara positif tanpa mengorbankan kesehatan mental.
Disusun oleh Kelompok 5
Sutria Lahasan (01101425080)
Avrilia Husuna (01101425076)
Selina S. Lasang (01101425076)
simpulindo.com berkomitmen menyajikan informasi faktual dari lapangan. Ikuti perkembangan terbaru melalui saluran kami Klik Disini https://bit.ly/4n8h1GD




