simpulindo.com, Gorut – Anggaran Dana Desa Rp 796 juta yang digelontorkan selama tiga tahun untuk pembangunan lapangan sepak bola di Desa Molantadu, Kabupaten Gorontalo Utara, belum juga berbuah hasil maksimal.
Hingga awal 2026, fasilitas olahraga tersebut masih terbengkalai dan ironisnya masih membutuhkan tambahan dana Rp 200–300 juta agar dapat difungsikan sepenuhnya.
Proyek yang dimulai sejak 2023 itu menyedot anggaran secara bertahap. Pada tahun pertama, Rp 315 juta digunakan untuk pembangunan badan lapangan.
Tahun berikutnya, Rp 215 juta kembali dikucurkan untuk pembangunan panggung.
Sementara pada 2025, dana desa kembali terserap untuk pembangunan tanggul lapangan senilai Rp 173 juta dan jamban sebesar Rp 93 juta.
Sekretaris Desa Molantadu, Nova Imran, mengungkapkan bahwa lapangan tersebut memiliki ukuran 90 x 60 meter, atau kategori lapangan mini standar.
Namun, besarnya anggaran yang terserap belum sebanding dengan kondisi fisik lapangan di lapangan.
“Lapangan ini memang sudah beberapa kali digunakan oleh karang taruna, bahkan sempat direncanakan untuk kegiatan Pramuka tingkat kecamatan. Tapi fasilitas pendukung seperti jamban belum tuntas sehingga jadi kendala,” ujar Nova, Jumat (9/1/26).
Fakta di lapangan menunjukkan, proyek bernilai ratusan juta rupiah itu belum memberikan manfaat optimal bagi masyarakat.
Kondisi lapangan yang belum rampung memunculkan tanda tanya besar terkait perencanaan, skala prioritas, hingga efektivitas penggunaan Dana Desa.
Dengan total anggaran yang sudah hampir menyentuh Rp 800 juta dan kebutuhan tambahan dana yang tidak sedikit, publik kini mempertanyakan: apakah perencanaan proyek ini sejak awal sudah matang, atau justru menjadi contoh buruk pengelolaan Dana Desa yang minim hasil namun boros anggaran?
Hingga kini, lapangan sepak bola Molantadu masih berdiri sebagai proyek setengah jadi, menunggu kejelasan penyelesaian di tengah sorotan warga dan tuntutan transparansi.












