Simpulindo.com, Gorontalo – Video seorang warga Kota Gorontalo, Havid S Duto, yang tengah sakit parah dan dibawa ke rumah sakit menggunakan mobil driver online, viral di media sosial. Pria berusia 41 tahun itu diduga tidak memperoleh fasilitas ambulans untuk dirujuk ke rumah sakit pada saat kondisinya memburuk.
Havid, warga Kelurahan Molosipat U, Kecamatan Sipatana, mengembuskan napas terakhir pada Senin (17/11/2025). Keluarga menyampaikan kekecewaan atas pelayanan Puskesmas Sipatana yang dinilai lambat merespons permintaan bantuan.
Saudara almarhum, Risnawati Duto, menceritakan awal kejadian ketika menerima kabar bahwa Havid mengalami sesak napas.
“Saya ditelepon keluarga untuk segera datang. Saat tiba di rumah, kondisinya sudah susah bernapas. Kami sepakat harus segera ke rumah sakit dan butuh ambulans,” kata Risnawati, Selasa (18/11/2025).
Keluarga kemudian menghubungi sopir ambulans Puskesmas Sipatana dan memberikan alamat lengkap. Namun setelah menunggu sekitar 20 menit, ambulans tak kunjung tiba.
Melihat kondisi semakin kritis, keluarga menghubungi Kepala Puskesmas Sipatana. Menurut Risnawati, pihak puskesmas menyampaikan bahwa sopir ambulans sedang bersiap mengikuti pertandingan bola voli dalam rangka perayaan hari kesehatan nasional.
“Kami minta setidaknya ada bantuan untuk mengantar pasien. Jawabannya tetap tidak bisa karena pertandingan segera dimulai,” ujar Risnawati.
Karena kondisi mendesak, keluarga memutuskan memesan mobil melalui layanan transportasi daring. Karena adanya kemacetan akibat pekerjaan jalan, perjalanan ke rumah almarhum waktu sekitar 10 menit.
“Harapan kami hanya ingin proses menuju rumah sakit lebih cepat. Ambulans punya oksigen dan sirene, bisa membantu pasien yang sesak napas,” tuturnya.
Di rumah sakit, Havid masih sempat mendapat perawatan sekitar dua jam, sebelum dinyatakan meninggal.
Keluarga juga menyebut pernyataan Lurah setempat di area pemakaman. Lurah mengaku telah menghubungi Kepala Puskesmas dan menawarkan menyediakan sopir, namun ditolak karena ambulans disebut akan dipakai mengangkut peserta pertandingan voli.
“Kami sudah menerima takdir almarhum. Namun pelayanan puskesmas membuat kami kecewa,” ungkap Risnawati.
Penjelasan Kepala Puskesmas
Kepala Puskesmas Sipatana, Rita Bambang, menyampaikan bahwa saat kejadian, puskesmas sedang dijadwalkan mengikuti kegiatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) yang berlangsung pada pukul 15.00.
“Telepon masuk sekitar pukul 14.45. Driver ambulans sedang berada di Dinas Kesehatan. Bukan ambulans yang digunakan untuk kegiatan voli, tetapi sopirnya memang ikut bertanding,” jelasnya.
Rita menegaskan bahwa peminjaman ambulans untuk pasien yang tidak berada di puskesmas tidak diatur dalam SOP. Ambulans hanya digunakan untuk merujuk pasien yang sudah terlebih dahulu mendapat penanganan awal di fasilitas pelayanan kesehatan.
“Prosedurnya, pasien datang dulu ke UGD, diberikan stabilisasi, dipasang infus, lalu dilakukan komunikasi dengan rumah sakit tujuan. Untuk meminjam ambulans tanpa melalui prosedur itu, belum ada aturannya,” katanya.
Rita juga mengklaim sempat berusaha menyampaikan bahwa ambulans dapat digunakan, namun komunikasi terputus.
“Driver sedang menuju puskesmas ketika itu. Karena tidak ada informasi lanjutan, driver kembali ke Dinas Kesehatan. Jadi tidak benar ambulans digunakan untuk kegiatan voli,” ujarnya.
Terkait pernyataan lurah, Rita menyebut tidak menerima komunikasi langsung mengenai penyediaan sopir pengganti.
“Kalau ada koordinasi jelas, kami pasti membantu. Orang sehat saja bisa dibantu, apalagi pasien,” kata Rita.
Rita menutup penjelasannya dengan permohonan maaf.
“Saya mohon maaf sebesar-besarnya kepada keluarga. Sebagai pelayan publik, kritik tetap menjadi tanggung jawab kami,” tutupnya. (An/Simpulindo).
simpulindo.com berkomitmen menyajikan informasi faktual dari lapangan. Ikuti perkembangan terbaru melalui saluran kami Klik Disini https://bit.ly/4n8h1GD












