Peristiwa

Diduga Dikeroyok Tiga Remaja, Siswi SMA di Gorontalo Mengalami Trauma Berat

×

Diduga Dikeroyok Tiga Remaja, Siswi SMA di Gorontalo Mengalami Trauma Berat

Sebarkan artikel ini
ilustrasi
ilustrasi

Simpulindo.com, Gorontalo – Dugaan pengeroyokan terhadap seorang siswi kelas XI di salah satu SMA negeri di Kota Gorontalo menyisakan luka mendalam, bukan hanya secara fisik, tetapi juga psikis. Peristiwa yang terjadi di luar jam sekolah itu membuat korban mengalami trauma berat hingga belum berani kembali mengikuti kegiatan belajar.

Orang tua korban, HD menceritakan kekerasan yang di alami putrinya. Peristiwa bermula pada Senin malam, sekitar pukul 18.30 Wita. Putri HD berpamitan untuk mendatangi rumah seorang teman. Tidak ada tanda mencurigakan pada saat itu.

“Saya sempat tanya mau ke mana, dengan siapa, dan naik apa. Dia bilang hanya mau kumpul sebentar dan naik ojek online,” kata HD, Minggu (25/1/2026).

Kepercayaan itu diberikan karena sang anak dikenal pendiam, tertutup, serta tidak pernah terlibat persoalan perkelahian. Situasi berubah setelah korban tiba di lokasi pertemuan. Di tempat itu, sudah menunggu tiga remaja perempuan yang diduga telah bersepakat sebelumnya.

Satu di antara mereka merupakan teman sekelas korban. Belakangan, sosok ini diketahui menjadi pemicu utama persoalan.

Pertemuan yang awalnya tampak biasa berubah menjadi tegang ketika pembicaraan mengarah pada urusan pribadi yang tidak sepenuhnya dipahami korban. Situasi kemudian bergeser ke lokasi lain, sebuah lapangan di Jalan ex Agussalim, tepatnya di bagian belakang yang minim pencahayaan.

“Anak saya sudah bilang supaya diselesaikan di situ saja. Bahkan pemilik rumah sempat melarang dan menahan mereka agar tidak pergi. Tapi tetap dibawa,” tutur HD.

Tanpa prasangka akan adanya kekerasan, korban ikut dibonceng salah satu terduga pelaku untuk menuju lokasi pengeroyokan.

“Anak saya pikir hanya akan bicara baik-baik. Dia tidak pernah terpikir akan dipukul,” ujarnya.

Sesampainya di lapangan, ponsel korban sempat diambil dan digunakan untuk merekam. Adu mulut tidak terhindarkan dan berujung pada dugaan pemukulan secara bersama-sama.

“Anak saya ditarik rambutnya, dipukul, ditendang di bagian perut, bahkan dibanting sampai pusing. Saat dia berusaha bangun, wajahnya disenter pakai handphone lalu kembali dipukul,” kata HD dengan suara bergetar.

HD menjelaskan, kekerasan dilakukan oleh tiga remaja perempuan. Dua di antaranya berasal dari kelas berbeda dan diajak oleh teman sekelas korban.

“Yang bermasalah sebenarnya hanya satu orang, teman sekelasnya. Tapi dia mengajak dua temannya dari kelas lain untuk memukul anak saya,” ungkap HD.

Sejumlah remaja lain yang datang ke lokasi sempat berusaha melerai, meski ada pula yang justru menahan upaya pertolongan. Pengeroyokan baru berhenti setelah sekelompok remaja lain membawa korban menjauh dari lokasi kejadian.

Korban kemudian bersembunyi di rumah salah satu temannya. Informasi peristiwa itu menyebar dan akhirnya sampai kepada HD melalui orang tua teman korban.

“Saya ditelepon dan diminta segera lihat pesan dan foto. Saat saya buka, saya kaget. Kondisi anak saya sudah sangat memprihatinkan,” tuturnya.

Dalam kondisi panik, HD segera menyusul dan mendapati putrinya mengalami luka, syok, serta ketakutan. Penanganan medis dilakukan malam itu juga, dilanjutkan dengan pelaporan ke kepolisian dan proses visum.

Keesokan harinya, keluarga mendatangi Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak untuk pendampingan psikologis. Asesmen tidak dapat dilanjutkan karena kondisi korban sangat terguncang.

“Psikiaternya menghentikan asesmen karena anak saya menangis terus dan tidak sanggup menjawab pertanyaan. Kesimpulannya trauma berat,” ungkap HD.

Sejak kejadian itu, korban menolak makan selama beberapa hari, enggan keluar kamar, serta belum berani kembali ke sekolah. Tangisan kerap muncul tanpa sebab yang jelas.

“Dari kecil dia tidak pernah rebutan, tidak pernah berkelahi. Dibentak saja dia sudah takut, apalagi dipukul seperti itu. Ini pukulan mental yang sangat berat,” ucap HD.

Informasi yang berkembang menyebutkan, pemicu dugaan pengeroyokan berkaitan dengan persoalan asmara di lingkungan pertemanan sekolah. Salah satu siswi yang diduga menjadi pelaku utama disebut merupakan mantan kekasih seorang siswa yang belakangan dikabarkan dekat dengan korban.

“Anak saya tidak tahu-menahu soal masalah mereka. Tapi justru anak saya yang jadi sasaran,” katanya.

HD menegaskan, apa pun latar belakangnya, kekerasan fisik terhadap anak di bawah umur tidak dapat dibenarkan.

“Saya tidak mempersoalkan masalah pribadi mereka. Yang saya persoalkan, anak saya dipukul secara bersama-sama. Ini sudah kekerasan,” tegasnya.

Pihak sekolah telah memfasilitasi pertemuan antara orang tua korban dan orang tua terduga pelaku. Akan tetapi, HD menilai belum terlihat itikad baik dari sebagian pihak.

“Bahkan ada yang membela anaknya dan menyalahkan korban. Sampai sekarang belum ada permintaan maaf yang tulus,” ujarnya.

HD juga menyebut, di antara terduga pelaku terdapat anak seorang guru yang mengajar di sekolah yang sama. Hingga kini, pihak sekolah belum menyampaikan sanksi resmi dengan alasan menunggu proses hukum.

“Saya memutuskan melanjutkan kasus ini ke proses hukum. Saya tidak ingin ada damai, karena saya khawatir kejadian seperti ini akan terulang dan tidak ada efek jera,” kata HD.

Ia berharap, peristiwa ini menjadi pengingat bagi orang tua dan lingkungan sekitar agar lebih waspada terhadap pergaulan remaja di luar rumah dan sekolah.

“Kita tidak tahu bagaimana pergaulan anak-anak di luar. Saya berharap kejadian ini tidak terulang dan ada perlindungan nyata bagi anak-anak,” pungkasnya. (An/simpulindo).


Kami berkomitmen menyajikan informasi faktual dari lapangan. Ikuti perkembangan terbaru melalui saluran kami Klik Disini https://bit.ly/4n8h1GD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *