PROGAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVESITAS NEGERI GORONTALO
2025
Pendahuluan
Perkembangan teknologi digital dalam beberapa tahun terakhir telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Kemunculan platform seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts menghadirkan bentuk hiburan dan informasi yang sangat cepat, ringkas, dan mudah dikonsumsi. Fenomena ini mencerminkan budaya baru di mana masyarakat tidak hanya terbiasa menerima informasi dalam durasi singkat, tetapi juga mulai mengembangkan pola berpikir yang menyesuaikan dengan kecepatan arus informasi. Tapscott (2009) menyebut fenomena ini sebagai karakteristik generasi digital yang “merasa lebih nyaman dengan media yang cepat, visual, dan interaktif dibandingkan teks panjang.’
Di sisi lain, perubahan pola konsumsi media ini menimbulkan pertanyaan mengenai dampaknya terhadap kemampuan kognitif. Dalam psikologi, kemampuan kognitif mencakup kemampuan berpikir, memproses informasi, mengingat, memusatkan perhatian, hingga memecahkan masalah. Matlin (2013) menjelaskan bahwa kognisi adalah “proses mental aktif yang digunakan seseorang untuk memahami dan memproses informasi dari lingkungan.” Dengan demikian, perubahan cara memperoleh informasi tentu berpotensi memengaruhi kinerja fungsi-fungsi tersebut.
Fenomena short video sangat relevan untuk dikaji karena kontennya yang padat, cepat, dan beragam mampu mengubah pola perhatian secara signifikan. Platform-platform ini sengaja dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna melalui stimulus visual, musik, humor, dan perubahan adegan cepat yang memicu respons dopamin. menyebut bahwa teknologi digital modern “menghadirkan distraksi yang konstan sehingga membentuk ulang mekanisme fokus dan kontrol kognitif manusia.’
Selain itu, perkembangan algoritma turut memperkuat pola konsumsi yang adiktif. Algoritma mempelajari preferensi pengguna dan menampilkan konten yang dianggap paling menarik sehingga pengguna terus terdorong untuk menonton lebih banyak video. Pariser (2011) dalam teori filter bubble menjelaskan bahwa algoritma menciptakan ruang personalisasi yang dapat membuat pengguna terjebak dalam pola konsumsi yang repetitif dan tanpa disadari memengaruhi cara mereka berpikir dan mengambil keputusan.
Beberapa peneliti bahkan memperingatkan bahwa media digital yang sangat cepat dapat menggeser cara otak memproses informasi. Carr (2010) melalui bukunya The Shallows menegaskan bahwa media digital berpotensi “mengalihkan fokus manusia dari kedalaman berpikir menuju pemrosesan informasi yang dangkal.” Pandangan ini diperkuat oleh hasil penelitian Rosen et al. (2014) yang menunjukkan bahwa paparan media cepat meningkatkan kecenderungan attention switching, yaitu perpindahan fokus secara berulang yang berdampak pada menurunnya kemampuan konsentrasi jangka panjang.
Dalam perspektif perkembangan sosial, kebiasaan menonton short video juga mencerminkan perubahan gaya belajar dan gaya berkomunikasi generasi saat ini. Prensky (2001) menyebut generasi modern sebagai digital natives yang berpikir secara berbeda dari generasi sebelumnya karena sejak kecil terekspos teknologi interaktif.
Pola pikir yang terbiasa dengan respon cepat, visual kuat, dan hiburan instan dapat memengaruhi kemampuan belajar dan problem solving mereka.
Berangkat dari kondisi tersebut, penting untuk mengkaji lebih dalam apa hubungan antara kebiasaan menonton short video dengan kemampuan kognitif, baik dari sisi positif maupun negatif. Pemahaman ini tidak hanya bermanfaat bagi individu pengguna, tetapi juga relevan bagi pendidik, orang tua, psikolog, dan pembuat kebijakan untuk merancang strategi literasi digital yang mampu menjaga kesehatan kognitif di tengah derasnya arus informasi digital.
Teori Kognitif
Menurut robert solso (2010), kognisi adalah proses mental yang mencakup persepsi, perhatian, memori, penalaran, dan pemecahan masalah. Proses-proses tersebut bekerja secara terintegrasi untuk membantu individu memahami dan merespon lingkungan. Dalam konteks era digital, perubahan pola konsumsi informasi dapat mempengaruhi cara kerja sistem kognitif tersebut.
Daniel kahneman (2011) membagi kemampuan berpikir manusia ke dalam dua sistem:
- Sistem 1, yang bekerja cepat, intuitif, dan
- Sistem 2, yang bekerja lambat, analitis, dan membutuhkan
Konten video pendek cenderung merangsang sistem 1, yang membuat individu terbiasa pada proses berpikir yang cepat tetapi dangkal. Sebaliknya, proses belajar mendalam yang memerlukan konsentrasi jangka panjang berkaitan dengan sistem 2.
Pola Menonton Short Video dan Dampaknya Terhadap Attention Span
Short video memiliki karakteristik yang sangat ringkas, cepat, dan padat visual. Hal ini membuat otak terbiasa berpindah fokus secara cepat. Penelitian Turel & Bechara (2020) menunjukkan bahwa paparan konten cepat dalam jumlah besar dapat mengurangi kemampuan otak dalam mempertahankan fokus pada tugas jangka panjang.
Akibatnya, individu yang terbiasa menonton short video cenderung:
- cepat bosan saat membaca teks panjang,
- sulit mempertahankan konsentrasi dalam waktu lama,
- ingin stimulasi cepat dan terus
Kondisi ini sering disebut sebagai attention fragmentation.
Dampak Terhadap Memori dan Pengolahan Informasi
Konten video pendek sering memberikan informasi secara fragmentaris. Menurut Mayer (2014), proses pembentukan memori jangka panjang membutuhkan fokus yang stabil dan kesempatan untuk melakukan elaborasi informasi. Ketika perhatian cepat berpindah, informasi sulit disimpan secara mendalam.
Akibatnya:
- Memori jangka panjang
- Pemahaman konsep kompleks
- Daya analisis menjadi
Konsep ini dikenal dengan istilah shallow processing (Craik & Lockhart, 1972).
Kemampuan Multitasking Semu
Banyak pengguna merasa bahwa menonton short video meningkatkan kemampuan multitasking. Padahal, penelitian Rosen (2013) menunjukkan bahwa multitasking digital bukanlah multitasking yang sebenarnya, melainkan switch- tasking, yaitu otak berpindah tugas secara cepat. Switch-tasking justru:
- meningkatkan kelelahan mental,
- menurunkan performa kognitif,
- memperlambat pemrosesan
Dampak Terhadap Pengembangan Kemampuan Berpikir Kritis. Berpikir kritis membutuhkan analisis mendalam, perbandingan gagasan, serta evaluasi. Namun, konsumsi short video sering kali hanya menyentuh permukaan informasi. Nicholas Carr (2010) menyatakan bahwa semakin sering seseorang mengonsumsi konten dangkal, semakin jarang ia berlatih berpikir mendalam. Akibatnya:
- kemampuan menyusun argumen menurun,
- kecenderungan melakukan jumping conclusion meningkat,
- kemampuan refleksi
Meskipun begitu, tidak semua dampak short video bersifat negatif. Beberapa penelitian, seperti oleh Zhang (2022), menunjukkan bahwa konten video pendek dapat membantu meningkatkan:
- kreativitas,
- kemampuan visual learning,
- kemampuan menangkap informasi secara cepat,
- pembelajaran mikro (microlearning).
Dengan catatan: konsumsi harus proporsional dan tidak berlebihan.
Perubahan Pola Atensi Sebagai Dampak Neuroplasitas Digital
Neuroplastisitas menjelaskan bahwa otak manusia dapat berubah struktur dan fungsinya sesuai kebiasaan dan stimulasi yang diterimanya. Menurut norman doidge (2015), “otak akan membentuk ulang dirinya mengikuti aktivitas yang paling sering dilakukan.”
Dengan demikian, kebiasaan menonton short video yang mengutamakan kecepatan, visual yang padat, dan alur informasi yang singkat dapat menyebabkan otak lebih terlatih untuk:
- Memproses informasi cepat,
- Mencari kepuasan instan,
- Kesulitan bertahan pada aktivitas yang lambat atau membutuhkan pemikiran mendalam.
Dalam jangka panjang, hal ini dapat menyebabkan berkurangnya kemampuan deep reading dan deep learning, yaitu dua kemampuan yang sangat penting dalam kegiatan akademik dan problem solving.
Fenomena “Cognitive overload” dan Dampaknya Pada Proses Berpikir
Short video biasanya menyajikan informasi yang sangat padat dalam waktu singkat. Menurut cognitive load theory oleh sweller (1994), kapasitas memori kerja manusia sangat terbatas. Ketika terlalu banyak informasi diberikan dalam waktu yang sangat cepat, individu akan mengalami cognitive overload, yaitu kondisi ketika otak tidak mampu mengolah semua informasi secara efektif. akibatnya:
- Informasi tidak diproses secara mendalam,
- Pengetahuan tidak terintegrasi dalam memori jangka panjang,
- Muncul kecenderungan untuk hanya mengingat gambaran umum tanpa memahami konsep inti.
Kondisi ini berpotensi mengganggu kemampuan akademik, terutama dalam memahami materi panjang atau teori kompleks.
Pengaruh Short Video Terhadap Regulasi Emosi dan Impulsivitas
Konten video pendek umumnya dirancang untuk memberikan efek emosional secepat mungkin. Hal ini memengaruhi respons emosional dan perilaku konsumsi media. Menurut penelitian shensa (2020), paparan media instan dapat meningkatkan impulsivitas akibat pelepasan dopamin yang sering dan cepat. Dampaknya:
- Individu menjadi mudah bosan,
- Sulit menunda gratifikasi,
- Lebih sering mencari hiburan daripada informasi
Kondisi ini dapat mengganggu kemampuan kognitif tingkat tinggi seperti perencanaan, disiplin diri, dan kemampuan mencapai tujuan jangka panjang.
Kemampuan kognitif tingkat tinggi, seperti berpikir kritis, analitis, dan reflektif, membutuhkan waktu dan ruang mental untuk berpikir mendalam. Namun, kebiasaan menonton konten pendek membuat pengguna cenderung:
- Terbiasa dengan ide-ide instan,
- Tidak sabar menghadapi argumentasi panjang,
- Menghindari bacaan yang kompleks dan
Penelitian mcfarlane (2021) menemukan bahwa mahasiswa yang secara intens menonton tiktok dan platform sejenis menunjukkan penurunan kemampuan mengelaborasi argumen dibandingkan mereka yang konsumsi short videonya rendah.
Hal ini menunjukkan adanya hubungan antara intensitas menonton video pendek dan penurunan kualitas berpikir kritis.
Dampak Terhadap Kemampuan Bahasa dan Literasi
Bahasa dan literasi merupakan bagian integral dari kemampuan kognitif. Konten video pendek lebih mengutamakan visual dan hiburan, bukan kedalaman narasi. Akibatnya:
- Pengguna lebih sering menerima informasi tanpa membaca,
- Kemampuan literasi akademik menurun,
- Kemampuan menyusun paragraf argumentatif
Menurut gee (2012), literasi membutuhkan proses internalisasi bahasa yang sistematis. Ketika seseorang jarang berlatih membaca panjang, maka struktur kemampuan bahasanya turut melemah.
Short video secara desain dibuat agar pengguna terus menggulir. Hal ini menciptakan kebiasaan atensi yang terfragmentasi. Menurut rosen, lim, carrier & cheever (2014), paparan digital yang cepat dapat meningkatkan distractibility, yaitu kondisi ketika individu mudah teralihkan oleh stimulus eksternal maupun internal. Akibatnya :
- Sulit menyelesaikan pekerjaan panjang,
- Sering berpindah aktivitas tanpa alasan,
- Menurunnya produktivitas akademik dan
Dampak Sosial-Kognitif: Pengaruh Terhadap Persepsi, Emosi, dan Interaksi Sosial
Konten pendek tidak hanya memengaruhi cara berpikir, tetapi juga persepsi sosial. Banyak short video menampilkan highlight kehidupan seseorang, sehingga menciptakan bias persepsi bahwa kehidupan orang lain “lebih seru, lebih sukses, atau lebih bahagia”.
Menurut festinger (1954), hal ini mendorong social comparison, dan dapat membentuk pola pikir kognitif yang tidak sehat seperti:
- Rendah diri,
- Perfeksionisme toksik,
- Distorsi kognitif dalam memaknai
Distorsi kognitif ini dapat memengaruhi kemampuan pengambilan keputusan serta kesehatan mental secara umum.
Aspek Positif Short Video Terhadap Kognisi
Walaupun sering dikaitkan dengan dampak negatif, konsumsi short video juga memiliki dampak positif jika digunakan secara terarah. Penelitian terbaru oleh guo & li (2022) menemukan bahwa konten edukatif berdurasi pendek dapat meningkatkan:
- micro learning,
- Kemampuan menyerap informasi cepat,
- Kreativitas visual dan audio,
- Kemampuan menyederhanakan informasi
Short video edukatif sangat efektif untuk generasi muda karena sesuai dengan gaya belajar visual.Berdasarkan literatur di atas, dampak short video pada kemampuan kognitif bergantung pada:
- Durasi konsumsi,
- Intensitas penggunaan,
- Jenis konten,
- Kontrol diri
Jika dikelola dengan baik, konten video pendek dapat menjadi media belajar yang efektif. Namun jika dikonsumsi berlebihan, ia dapat menurunkan kemampuan kognitif penting seperti fokus, memori mendalam, dan berpikir kritis.
Penutup
Kebiasaan menonton short video atau reels di era digital memiliki hubungan yang signifikan dengan kemampuan kognitif manusia, khususnya dalam aspek perhatian, memori, pengolahan informasi, hingga kemampuan berpikir kritis. Short video yang bersifat cepat, singkat, dan penuh rangsangan visual mampu membentuk kebiasaan otak untuk mencari stimulus instan, sehingga mempengaruhi neuroplastisitas dan pola kerja sistem kognitif.
Di satu sisi, konten video pendek memiliki potensi positif ketika digunakan dalam konteks edukasi, seperti meningkatkan kreativitas, kemampuan menangkap informasi cepat, serta mendukung pembelajaran mikro (microlearning). Namun di sisi lain, konsumsi berlebihan dapat menurunkan kemampuan fokus jangka panjang, memperlemah memori mendalam, meningkatkan impulsivitas, serta mengurangi kapasitas berpikir analitis dan kritis.
Oleh sebab itu, hubungan antara short video dan kemampuan kognitif bersifat ganda (dual impact): dapat bersifat konstruktif jika dikonsumsi secara moderat dan terarah, namun juga dapat merugikan jika tidak dikontrol. Fenomena ini menjadi tantangan besar di era digital, terutama bagi generasi muda yang semakin terbiasa dengan pola konsumsi cepat dan serba instan. Pengendalian diri, literasi digital, dan manajemen waktu menjadi kunci untuk menjaga kesehatan kognitif di tengah derasnya arus short video.
Disusun oleh Kelompok 5:
Andi Herlinah (01101425101)
Anggun Mokodongan (01101425107)
Annisa Nur Khasanah (01101425116)






