PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2025
Pendahuluan
Emosi sering dianggap sebagai sesuatu yang muncul secara spontan, namun sebenarnya emosi memiliki peran besar dalam cara kita berpikir, menilai sesuatu, dan mengambil keputusan. Tanpa kita sadari, emosi dapat memengaruhi arah pikiran sehingga keputusan yang kita ambil tidak sepenuhnya berdasarkan logika. Dalam kehidupan sehari-hari, emosi bekerja sangat cepat bahkan lebih cepat dari pada proses berpikir rasional yaitu cara berpikir yang menggunakan logika, pertimbangan yang jelas, dan fakta sebelum mengambil keputusan.
Ketika seseorang merasa takut, cemas, marah, atau justru bahagia, otak akan mengirim sinyal tertentu yang memengaruhi cara seseorang menilai situasi. Akibatnya, keputusan yang dibuat sering dipengaruhi oleh perasaan saat itu, bukan oleh analisis mendalam. Para ahli psikologi menjelaskan bahwa bagian otak bernama amygdala berperan penting dalam respons emosional, dan bagian inilah yang sering mengambil alih keputusan sebelum logika sempat bekerja.
Menurut LeDoux (2015), amygdala dapat membajak proses berpikir rasional ketika emosi kuat muncul, sehingga seseorang bertindak berdasarkan impuls yaitu dorongan tiba-tiba yang muncul dari emosi kuat sehingga seseorang bertindak tanpa berpikir panjang. Hal inilah yang membuat emosi memiliki sisi tersembunyi yang sangat kuat dalam mengendalikan perilaku manusia.
Bagaimana Emosi Mengendalikan Keputusan
Emosi dapat memengaruhi keputusan melalui berbagai cara, mulai dari persepsi yaitu cara seseorang memahami, menafsirkan, dan memberi makna terhadap informasi yang diterima dari lingkungannya melalui pancaindra hingga tindakan. Ketika seseorang berada dalam kondisi emosional tertentu, otak cenderung mempercepat proses pengambilan keputusan agar tubuh dapat segera merespons situasi. Misalnya, ketika marah, seseorang lebih cepat bereaksi dan cenderung menyimpulkan sesuatu secara tergesa-gesa, ketika takut, seseorang bisa mengambil keputusan menghindar meskipun situasinya sebenarnya aman.
Menurut penelitian Lerner & Keltner (2016), setiap emosi memunculkan pola keputusan yang berbeda. Rasa marah membuat seseorang lebih percaya diri dan berani mengambil risiko, sedangkan rasa takut membuat seseorang lebih berhati- hati dan defensif yaitu sikap atau reaksi seseorang yang cenderung menjaga diri, menghindari risiko, dan berhati-hati secara berlebihan ketika menghadapi situasi yang dianggap mengancam atau tidak aman.
Emosi juga dapat menimbulkan bias yaitu sikap ketika seseorang menilai atau memutuskan sesuatu tidak secara netral dalam berpikir. Orang yang bahagia cenderung mengambil risiko lebih besar karena menganggap situasi lebih aman, sementara orang yang sedih atau cemas cenderung lebih pesimis. Dalam psikologi modern, fenomena ini disebut affect heuristic, yaitu kecenderungan seseorang mengambil keputusan berdasarkan perasaan yang muncul saat itu. Kahneman (2017) menyatakan bahwa affect heuristic bekerja sangat cepat sehingga seseorang sering tidak menyadari bahwa keputusannya dikendalikan oleh emosi, bukan oleh logika.
Selain itu, memori emosional memiliki pengaruh kuat terhadap pilihan seseorang. Pengalaman masa lalu yang disertai emosi kuat, seperti kecewa atau trauma ringan, dapat membuat seseorang menghindari situasi serupa, meskipun sebenarnya tidak berbahaya. Sebaliknya, pengalaman positif dapat mendorong seseorang mengulangi perilaku tertentu.
Menurut penelitian Immordino yang (2016), memori emosional tersimpan lebih kuat dibanding memori netral karena melibatkan sistem limbik yaitu bagian dari otak yang berfungsi mengatur emosi, motivasi, serta pembentukan memori yang sensitif terhadap pengalaman bermakna. Di sisi lain, emosi juga memengaruhi logika dengan cara yang lebih halus, seperti meningkatkan tekanan, mengubah fokus perhatian, atau membuat seseorang sulit berpikir jernih.
Emosi yang tidak dikelola dengan baik dapat membuat keputusan lebih impulsif yaitu tindakan yang dilakukan secara tiba-tiba tanpa dipikirkan terlebih dahulu, sedangkan emosi yang stabil dapat membantu seseorang mengambil keputusan dengan lebih bijak. Hal ini sejalan dengan pendapat Gross (2020) yang menyatakan bahwa regulasi emosi yaitu kemampuan seseorang untuk mengelola dan mengontrol perasaan yang muncul dalam dirinya. yang baik dapat meningkatkan kualitas pengambilan keputusan sehari-hari. Dengan kata lain, keputusan kita tidak pernah benar-benar netral karena selalu ada pengaruh emosional di dalamnya.
Penutup
Emosi merupakan bagian penting dari diri manusia dan tidak dapat dipisahkan dari proses pengambilan keputusan. Meskipun sering dianggap sebagai pengganggu logika, emosi sebenarnya berfungsi sebagai sinyal penting yang membantu kita menilai situasi secara cepat. Namun, jika emosi tidak dikelola dengan baik, keputusan yang diambil bisa menjadi tidak tepat dan bahkan merugikan. Oleh karena itu, memahami bagaimana emosi bekerja menjadi langkah penting untuk membuat keputusan yang lebih seimbang.
Dengan belajar mengendalikan emosi, mengenali perasaan yang muncul, dan memberi waktu bagi pikiran untuk menganalisis situasi, seseorang dapat mengambil keputusan yang lebih matang dan rasional. Pada akhirnya, kesadaran terhadap sisi tersembunyi emosi akan membantu kita menjadi pribadi yang lebih tenang, bijaksana, dan terarah dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Daftar Pustaka
Gross, J. J. (2020). Emotion Regulation: Current Status and Future Prospects. Psychological Inquiry.
Immordino-Yang, M. H. (2016). Emotions, Learning, and the Brain. W. W. Norton & Company. Kahneman, D. (2017). Thinking, Fast and Slow. Farrar, Straus & Giroux.
LeDoux, J. (2015). Anxious: Using the Brain to Understand and Treat Fear and Anxiety. Viking. Lerner, J. S., & Keltner, D. (2016). Emotion and Decision Making. Annual Review of Psychology.
Di Susun Oleh :
Kelompok 4
1. Siti Nurjana Hapili (01101425070)
2. Lutfia Daud (01101425084)
3. Nuuranti J Umar (01101425094)
simpulindo.com berkomitmen menyajikan informasi faktual dari lapangan. Ikuti perkembangan terbaru melalui saluran kami Klik Disini https://bit.ly/4n8h1GD




