Penulis: Anki Priutama Putra (Bukan sapa-sapa)
Simpulindocom, Gorontalo – Tensi dan perang opini dalam politik itu hal biasa, bahkan tanpa intrik, drama, strategi picik itu membuat politik seperti kopi tanpa gula terasa hambar, pahit pekat yang kurang peminat.
Sama halnya dengan apa yang terjadi saat ini di Bumi Serambi Madinah, Provinsi Gorontalo. Hubungan antara Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail (GI) dan Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea (AD) yang masih memanas, terus saling adu opini, saling berlomba mempertontonkan gebrakan dan ide masing-masing untuk menguji siapa yang bakal mendapat atensi positif dari publik.
Bagi penulis, pada dasarnya adu gagasan atau gebrakan antara GI dan AD terlebih jika berdampak positif bagi perekonomian, pendapatan masyarakat itu sah dan tentu sangat baik.
Lewat tulisan ini, penulis coba sedikit mengajak para pembaca untuk tetap sama-sama melihat serta menjaga agar konflik dua kepala daerah ini tidak sampai kebablasan hingga jauh dari ruang-ruang dialektika, serta memicu polarisasi yang kian parah yany nantinya akan berdampak pada pelayanan masyarakat luas.
Dari sejumlah pemberitaan yang telah dibaca oleh penulis dengan penuh seksama, hubungan GI dan AD itu mulai retak hingga mengakibatkan Cold Of War (Perang Dingin) dengan cita rasa lokal bermula pasca RUPS BSG di Manado, buntut dari tidak adanya keterwakilan putra asli daerah Gorontalo di kursi jajaran direksi BSG.
Setali tiga uang, Keputusan Gerindra Gorontalo menempatkan diri sebagai partai oposisi pemerintahan GI seolah semakin membuat AD memantapkan deklarasi perang ke GI.
Dalam sebuah potongan video pendek di Intagram beberapa waktu lalu, AD naik pitam dan mengkritik keras gaya komunikasi Erwinsyah Ismail (EI), putra kandung GI yang dinilai AD tak beretika dan beradab kepada seorang Ketua DPD Partai Gerindra Provinsi Gorontalo, El-nino Husein Mohi.
AD naik pitam menganggap sikap GI dan EI kepada El-nino tidak menghargai sosok Anggota DPR-RI itu yang merupakan salah satu tokoh sentral dibalik kemenangan Gusnar-Idah (Gas) pada Pilkada lalu.
Walaupun segala problema ini telah di klarifikasi dan dibantah oleh pihak GI mauapun EI tak membuat hubungan panas keduanya mereda.
Masing-masing seolah tetap kekeh pada pembenarannya. GI tetap tancap gas dengan mulai melaksanakan janji-janji kampanyenya. Di sektor ekonomi GI berhasil membawa Gorontalo berada pada jajaran 10 besar Provinsi dengan pertumbuhan ekonomi terbaik walaupun ditengah badai konflik perang dingin dengan sang Wali Kota Gorontalo, AD.
Tak mau kalah dari GI, Wali Kota AD juga tampil bak pahlawan yang selama ini dinanti-nanti oleh para pelaku UMKM. Jurusnya: AD menyulap trotoar dan pelataran pasar sentral yang semula tak terlirik kini malah jadi pusat roda ekonomi bagi pelaku UMKM yang menjanjikan. Bahkan sejumlah pihak memberikan gelar bapak UMKM Gorontalo ke sosok AD.
Walaupun ide menyulap trotoar jadi arenanya pelaku UMKM mendapat pertentangan dari GI, AD tak mau ambil pusing, taglinenya: Tidak Ada cerita, siapapun saya akan lawan.
Dari ulasan diatas, penulis coba menelaah bahwa meski kedua pemimpin itu tengah berkonflik, keduanya tetap dapat bekerja cukup baik dengan torehanbprestasinya masing-masing dan tentu layak mendapat apresiasi.
Konflik yang terus dipelihara dan mulai terkesan berlebihan justru makin mengantarkan kedua sosok pemimpin itu seperti anak-anak. Penulis berani mengatakan hal ini karena mulai melihat sejumlah dampak yang tidak sehat dari cold of war rasa lokal ini.
Mulai dari perseteruan soal penggunaan trotoar di Tanggidaa, hingga yang paling update terkait penyelenggaraan Gorontalo Half Marathon (GHM), apa yang dipertontonkan dari konflik ini mulai tidak sedap untuk dikomsumsi publik.
Dari Cold of War cita rasa lokal ini tentu saja akan ada polarisasi di masyarakat, terlebih keduanya memang sosok polisi senior di Serambi Madinah.
Koprol GI Kena, Koprol AD Kena
Lewat tulisan ini, penulis berniat untuk menyampaikan sebuah peringatan jangan sampai cold of war cita rasa lokal ini makin berimbas pada pelayanan publik ke masyarakat yang hanya akan mencoreng citra kedua pemimpin hebat ini.
Selama ini cold of war GI dan AD seolah terus dirawat entah keuntungan apa yang didapat dari mereka yang menjaga konflik ini. Hanya saja makin kesini konflik ini mulai berlebihan dan merusak.
Mulai ada polarisasi di Aparatur negara yang semestinya konsen pada perbaikan dan peningkatan pelayanan publik saja dan tidak ikut masuk atau ditarik dalam konflik ini.
Dalam contoh kasus GHM: Medali, Jalan, Logo, jadwal, yang dipersoalkan. Kisruh dan runyam, itulah gambaran jelang pelaksanaan salah satu event lari bergensi di Serambi Madinah. Seolah semua pihak ditarik dalam pusaran masalah yang sebenarnya tidak perlu terlalu diributkan karena masih banyak hal-hal yang lebih esensial.
Jika penulis simpulkan, polemik GHM 2025 adalah pesan politik multi tafsir. Jika kita tarik pada contoh drama, ia mirip judul salah satu film terkenal dalam film Warkop DKI maju kena, mundur kena, yang penulis plesetkan Koprol GI bakal kena, Koprol AD tetap kena, itulah leluconnya.
Redahkan Konflik, Gaungkan Kolaborasi!
Terakhir penulis mengingatkan sejatinya kedua sosok baik GI atau AD telah mengukir prestasinya masing-masing dengan elegan. Dalam konflik ini yang menderita kerugian paling besar potensi akan dirasakan masyarakat luas, pelaku UMKM, rakyat penerima bantuan, serta orang-orang yang ingin mendapat pelayanan maksimal.
Sebelum konflik makin tidak terarah, alangkah baiknya keduanya sama-sama mendorong upaya untuk gencatan senjata dan mengakhiri konflik cold of war rasa lokal ini. Demi siapa? Demi Rakyat Gorontalo!
Bila kita melihat dengan cakrawala dan akal yang sehat, sejatinya AD dan GI punya visi yang sama dalam memajukan tanah serambi madinah yakni menggalang berbagai kolaborasi lintas sektor, jadi alangkah banyak hal itu dimulai dari kedua pemimpin itu!
Tentu tidak ada pihak manapun yang ingin melihat konflik kedua tokoh ini sampai pada titik polarisasi yang parah, orangnya GI anti orangnya AD begitupun sebaliknya, jika ini sampai terjadi diranah pelayanan publik, bayangkan masyarakat lagi yang bakal dirugikan.
Sebelum semuanya serba terlambat, penulis ingin berpesan lewat tulisan opini ini, bahwa tak ada dampak perang selain kerugian bagi pihak yang berperang! Cukuplah belahan dunia diluar sana yang dilanda rasa cemas akan ancaman perang lintas negara, kita di daerah sudah cukup menderita dengan berbagai kesulitan.
Jika para pembisik tidak mampu jadi alasan keduanya berdamai, paling tidak jangan tunggu rakyat muak melihat tontonan ini dan akhirnya mendorong islah yang dikehendaki oleh rakyat sendiri. (simpulindo).
simpulindo.com berkomitmen menyajikan informasi faktual dari lapangan. Ikuti perkembangan terbaru melalui saluran kami Klik Disini https://bit.ly/4n8h1GD












